“Coffe Morning Sinergitas Integrated Criminal Justice System”

JAKARTA, majalah-prosekutor.com – 
Keseragaman persepsi diantara penegak hukum dalam memahami substansi penghentian penuntutan berdasarkan restoratif justice, diperlukan kehati-hatian dalam penerapannya, apalagi jika itu menyangkut perkara narkoba yang memiliki karakteristik berbeda dengan perkara-perkara pidana lainnya.
Pernyataan tersebut muncul saat gelaran ‘coffe morning’ di Lobby Polda Metro Jaya dengan topik “Meningkatkan Sinergitas Integrated Criminal Justice System  (ICJS) dalam penerapan Restoratif Justice (RJ) bagi pengguna narkoba” yang digelar Polda Metro Jaya, Rabu (03/03/2021).
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Ketua Pengadilan Tinggi Banten, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Wakil Direktur Narkotika, Kepala BNNP, Asisten Pidana Umum Kejati Banten, Koordinator pada Kejati Jabar dan Jaksa serta Aspidum Banten dan Kasi Napza. Sementara Kajati DKI Jakarta diwakili oleh Sulvia T. Hapsari, SH., MH., Koordinator pada Aspidum Kejati DKI Jakarta bersama Kasi Napza.
Dalam kesempatan itu, Sulvia T. Hapsari, mengemukakan beberapa hal yang mendasar terkait dengan topik permasalahan.
Salah satu hal yang mendasar yang ia kemukakan, yaitu diperlukan keseragaman persepsi diantara penegak hukum dalam memahami substansi penghentian penuntutan berdasarkan restoratif justice tersebut sehingga diperlukan kehati-hatian dalam penerapannya, apalagi jika itu menyangkut perkara narkoba yang memiliki karakteristik berbeda dengan perkara-perkara pidana lainnya.franky-MP7

Leave a Comment