Walikota Semarang Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Usai PPKM

SEMARANG – majalah-prosekutor.com – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, akan mengkaji ulang proses pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) setelah pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali yang dimulai 11-25 Januari 2021 ini.
Ia meminta kepada seluruh sekolah yang ada di Kota Semarang untuk menunda pelaksanaan PTM di masa PPKM tersebut. Meskipun telah ada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yang memperbolehkan PTM dilakukan mulai awal Januari 2021.
“Di masa PPKM ini, kami memutuskan kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan secara daring dari rumah. Setelah PPKM, akan kami lihat lagi kondisinya,” kata Hendi, sapaannya, saat menjadi pembicara dalam talkshow bertema “Siapkah kembali sekolah saat Corona belum kalah?” yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) secara virtual, Jumat (15/01/2021).
Ia menuturkan, Kota Semarang menjadi daerah yang harus menerapkan PPKM Jawa-Bali karena tingkat kasus aktif di Kota Semarang lebih tinggi dari nasional. Sehingga harus ikut menerapkan kebijakan pembatasan dari pemerintah pusat, yang mengadopsi kebijakan PKM Kota Semarang dalam upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19.
Dikatakannya, berdasarkan SKB 4 menteri, Kota Semarang sebenarnya telah bersiap melakukan PTM di tingkat SD dan SMP yang dimulai Januari 2021 ini. Keputusan tersebut diambil setelah rapat bersama dengan seluruh pihak terkait.
“Sudah ada persiapan untuk offline di Januari 2021. Karena PPKM ini, tidak jadi. Kita tunda dulu. Mudah-mudahan setelah 25 Januari, kondisinya membaik sehingga kami bisa lakukan persiapan kembali,” ujarnya.
Untuk memulai PTM, lanjutnya, tidak serta merta bisa dilakukan karena harus ada persetujuan dari banyak pihak. Selain Walikota sebagai kepala daerah, izin juga harus diperoleh dari orang tua siswa. Ditambah lagi izin dari Satgas Covid-19.
“Jika semua sudah oke, baru nanti dilakukan secara bertahap beberapa sekolah dulu,” lanjut Hendi.
Proses vaksinasi di Kota Semarang telah dimulai. Pada tahap I ini, vaksin diberikan terlebih dahulu kepada tenaga kesehatan dan beberapa kelompok klaster penerima prioritas lainnya. Adanya vaksinasi ini, diharapkan nantinya dapat menekan dan menghentikan penyebaran Covid-19 di Kota Semarang.
Dalam talkshow tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran Unimus, Tri Kartika Setyarini menyampaikan bahwa siswa SD dan SMP sangat rentan tertular Covid-19. Sehingga mereka harus dilindungi.
“Dari hasil penelitian, prosentase siswa tertular cukup tinggi. Dari 8 orang yang tertular, di antaranya usia anak sekolah,” ujarnya.
Untuk itu, untuk melakukan PTM, pihak sekolah harus melakukan berbagai persiapan. Persiapan tersebut juga harus ada kesiapan dari orang tua, satuan pendidikan dan seluruh pihak yang terkait.
“Tatap muka bisa dilakukan jika ada izin secara berjenjang. Dari kepala daerah, orang tua dan Satgas Covid-19. Kemudian pihak sekolah juga melakukan berbagai persiapan lainnya sebagai upaya optimalisasi pencegahan,” paparnya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Gunawan Saptogiri menegaskan, bahwa pihaknya akan mulai menerapkan PTM jika kasus Covid-19 di Kota Semarang sudah menurun dan Kota Semarang menjadi zona kuning atau oranye.
“Kalau Kota Semarang sudah zona kuning atau oranye, baru kita mulai pembelajaran tatap muka. Tapi secara bertahap, tidak bisa serentak,” katanya, beberapa waktu lalu.
Zona Covid-19 itu nantinya akan dilihat atau dikaji kembali setelah PPKM 11-25 Januari selesai. Jika kasus Covid-19 Kota Semarang masih tinggi dan zona masih merah, maka pembelajaran tatap muka belum bisa diterapkan.
Gunawan berharap, distribusi vaksin Covid-19 bisa segera dilakukan sehingga angka kasus menjadi berkurang. Dengan begitu, persiapan tatap muka yang sudah dilakukan, bisa langsung diterapkan pada sekolah.
“Nanti setelah PPKM, akan kita kaji, kita lihat zonanya. Kalau sudah kuning, kita mulai terapkan. Tapi tetap menunggu izin dari pak wali,” tegasnya.franky-MP7

Leave a Comment