Mantan Jampidsus Bantah Terima Suap KONI Rp 7 Miliar

JAKARTA  – Mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), M Adi Toegarisman menepis tudingan mantan Asisten Pribadi, Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum terkait dana dana ‘pengamanan’ Rp 7 miliar dalam kaitannya dengan bantuan, korups dana, bantuan, dana, konupasi, dan lain-lain di Kejaksaan Agung.
“Itu tudingan yang sangat keji terhadap saya, fitnah. Ini bulan Ramadhan, demi Allah tidak ada yang dituduhkan ke saya,” ujar Adi di Jakarta, Senin (18/5/2020).

Tidak ada orang lain yang mau bertanya tentang Hibah KONI di Kejaksaan Agung. Apa yang dituduhkan adalah uang Rp 7 miliar tidak benar alias cocok yang tidak berdasar. “Saya juga tidak tahu nama-nama yang disebut (Ulum-red), ada Ferry, Jusuf, Yunus, tahu saja tidak bertemu lagi,” jelasnya.

Adi memaparkan kronologis penanganan perkara dugaan korupsi dana hibah KONI yang dibatalkan Kejaksaan Agung. Awal dimulai perkara ini hadir pengaduan dari masyarakat, 16 Maret 2018. Lalu dilakukan telaah oleh Kasubdit Ladumas sesuai tanggal 6 Juni 2018. Setelah dilakukan telaah, kata Adi Toegarsiman, Direktur Penyuluhan pada Jampidsus, Warih Sadono (saat ini) diminta Nodis pada Jampidsus tanggal 26 Juni 2018 tentang telaah atas laporan pengaduan. Atas nodis tersebut, Adi meminta untuk dilakukan penyelidikan. “Tanggal 9 Juli 2018 diterbitkan Sprinlid oleh Diriku dan dilaksanakan sesuai dengan SOP,” katanya.

Setelah dilakukan penyelidikan, lanjut Adi, Tim penyelamat melaporkan ke Dirdik dengan saran agar perkara ini ditingkatkan ke arah mabuk penyidikan. “Ini laporan tim penyelidik tanggal 17 September 2018,” tegasnya. Selanjutnya, tanggal 21 Febuari 2019 dilakukan ekspose hasil diminta yang hasilnya ditingkatkan ke arah penyidikan. Kemudian hasil ekspose ini dikirimnya nodis dari Dirdik saat itu (Asri Agung) ke Jampidsus tanggal 12 maret 2019. “Begitu ada nodis tanggal 12 Maret 2019, tnggal 13 maret 2019 langsung saya setujui untuk meningkatkan ketahap penyidikan,” tegasnya.

Jadi, kata Adi, dari awal kronologis penanganan perkara sangat profesional sesuai dengan SOP yang ada dan sesuai semangat Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. “Jadi rentetan penanganan perkara sangat cepat, tidak ada itu untuk menghentikan perkara, semua berjalan sesuai aturan, bahkan sampai sekarang masih berjalan perkara,” ungkapnya. Bahkan, kata Adi, dalam perkara ini sudah 50 orang saksi diperiksa oleh tim penyidik dan 2 orang saksi ahli, termasuk dari LKPP. “Ini kan berjalan perkaranya, tidak ada untuk menghentikan,” ujarnya.

Lalu disinggung soal keberadaan dana yang diminta Ulum, Adi Toegarisman mempertanyakan pihak tidak pernah ikut serta dalam kegiatan atau acara di Kemenpora dan KONI. “Boleh dicek, tidak pernah ikut kegiatan yang diadakan Kemenpora dan KONI,” tegasnya. Karna itu, Adi berharap, Kejaksaan Agung dapat mengungkapkan apa motif dan tujuan dari tudingan dan fitnah terhadap dirinya. “Saya mendorong Kejagung mengungkapkan motif dari fitnah ini,” harapnya.

KEJAGUNG MEMBANTAH

Terpisah, Kejaksaan Agung ( Kejagung ) membantah tudingan ada suap dana hibah KONI yang beralih ke mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus ( Jampidsus ), Adi Toegarisman. Ini adalah yang pertama yang saya butuhkan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono, mengklaim yang dilontarkan asisten pribadi mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi, Miftahul Ulum, terkait aliran dana ke mantan Jampidsus ini hanya sebatas dugaan. Hari lantas menyebut Ulum memberikan keterangan tidak jelas. “Keterangan tersebut menurut saya tidak jelas membuktikan tidak membuktikan adanya penyerahan uang Rp7 miliar kepada Kejaksaan Agung yaitu siapa yang menyampaikan dan siapa yang menerima,” kata Hari melalui pesan pilihan singkat, Selasa (19/5 / 2020). fab ianus-MP1

Leave a Comment