Uang Rp 7,1 M Dipakai Perusahaan Anggota Kopkar Suara Merdeka Group Dukung Lapor Polda

SEMARANG – Anggota Koperasi Karyawan (Kopkar) Suara Merdeka (SM) Group, sangat mendukung langkah pengurus koperasi, untuk menuntut pengembalian uang anggota koperasi senilai sekitar Rp 7,1 miliar, yang digunakan perusahaan SM Group. Dukungan atas langkah itu, dilakukan secara langsung dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2019, pada Jumat (3/5) lalu, maupun secara tertulis dengan mandat yang ditandatangani sekitar 450 anggota yang hadir dalam RAT.
Beberapa anggota menyatakan memberikan dukungan itu, berupa pelaporan ke Polda Jateng, setelah langkah pengurus koperasi yang melakukan belasan kali negosiasi secara kekeluargaan dengan jajaran direksi, tidak membuahkan kejelasan.
Pengurus juga sudah mengirim surat ke Presiden Komisaris SM Group, Ir Budi Santoso, Komisaris Sarsa Winiarsih Budi Santoso, CEO Kukrit Suryo Wicaksono,  namun beberapa kali juga tidak mendapatkan tanggapan. Bahkan somasi yang dikirim pengacara, Dr Jawade Hafids pun, tidak ditanggapi jajaran direksi maupun komisaris.
Ketua Umum Kopkar SM Group, Sri Mulyadi dalam RAT yang digelar di bengkel mobil ekspedisi Suara Merdeka, Jalan Merak 11 A Semarang  itu menyampaikan, uang koperasi yang digunakan PT Suara Merdeka (PT SM) sebesar Rp 3.207.093.942. Rinciannya, Rp 1.232.920.138 hasil potongan dari karyawan yang tidak disetorkan ke koperasi. Kemudian gaji karyawan oleh perusahaan sudah dipotong untuk simpanan wajib, simpanan pokok, simpanan sukarela, angsuran pinjaman anggota ke koperasi. Namun hasil potongan itu tak disetor ke koperasi, tanpa izin anggota maupun pengurus koperasi.
Perincian yang lain yakni, uang sebesar Rp 154.692.504 guna pembayaran kantin, lalu uang sejumlah Rp 1.819.481.300 untuk pembayaran karyawan cleaning service dan angkutan koran.
‘’Pada periode Maret 2016 sampai Desember 2017, koperasi membayari dulu biaya makan karyawan. Begitu juga untuk gaji karyawan cleaning service dan angkutan koran. Tapi sampai sekarang oleh PT SM belum dibayar atau diganti oleh perusahaan,’’ ungkap pria yang akrab dipanggil Mbah Mul ini. Sedangkan uang koperasi yang berada di PT Masscom Graphy (sekarang sudah tutup), sebesar Rp 3, 41 miliar lebih. Uang ini terdiri atas potongan karyawan yang tidak disetor ke koperasi senilai Rp 3,51 miliar lebih, dan kantin Rp 359.016.800.
‘’Ini kasusnya sama. Uang dipakai perusahaan tanpa sepengetahuan anggota maupun pengurus koperasi. Sementara uang koperasi yang di Harian Wawasan ada sebesar Rp 525.728.700. Untuk pembayaran kantin dan cleaning servis,’’ ungkapnya.
Akibat dari uang koperasi yang ada di perusahaan SM Group itu mencapai Rp 7, 14 miliar lebih, koperasi tidak dapat melayani kepentingan anggota sebagaimana mestinya. Baik dalam hal pelayanan pinjaman, maupun pengambilan simpanan suka rela.
‘’Bahkan karyawan yang sudah pensiun pada 2016 silam,  terpaksa tidak dapat mengambil uangnya di koperasi, karena sebagaian besar uang koperasi ada di perusahaan. Rasanya memang aneh, mau mengambil uangnya sendiri yang ditabung selama bekerja kok tidak bisa, karena uangnya digunakan perusahaan,’’ ungkap dia lagi.
‘’Saya benar-benar prihatin. Karyawan sudah merelakan gajinya dipotong untuk simpakan wajib, simpanan pokok, simpanan sukarela (tabungan), tapi pada saat dibutuhkan, uangnya sendiri tidak bisa diambil, karena uangnya digunakan perusahaan,’’ tutur Mbah Mul.
Dikatakan dia, sejak tiga tahun lalu pengurus sudah berusaha meminta uang anggota koperasi yang ada di perusahaan, tapi hanya sebagian kecil yang dibayar. Bahkan setahun terakhir sudah tidak dibayar sama sekali.
‘’Pengurus selama tiga tahun berusaha untuk sabar, dan selalu meminta solusi ke direktur keuangan, operasional, HRD, dan jajaran direksi lain, tapi hasilnya cuma janji yang tak pernah terealisasi,’’ keluhnya. Dia juga menambahkan, atas kenyataan itu, pengurus juga sudah meminta surat pengakuan dari manajemen, yang isinya menyatakan bahwa uang anggota koperasi memang masih berada di perusahaan.
‘’Surat pengakuan dari Manajer Keuangan, Hudawi (kini dia pindah HRD-red) dan Direktur Mascom Graphy, Heru Djatmiko (kini Dirops SM-red), sudah ada. Namun realisasi pembayaran tetap belum ada,’’ ungkapnya lagi.
Akibat tuntutan anggota koperasi yang akan mengambil uangnya sendiri di koperasi tidak dapat dilayani, serta pelayanan kepada anggota juga ‘’lumpuh’’, dan tak ada lagi celah lain yang bisa ditempuh, serta belum adanya niat baik perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, pengurus kemudian meminta bantuan hukum ke pengacara Dr Jawade Hafids, yang kini sudah melayangkan somasi sebanyak dua kali.
LAPOR POLDA
‘’Untungnya pengacara mau memahami kondisi dan kesulitan anggota koperasi, sehingga tidak bersedia menerima jasa,’’ papar Mbah Mul.
Atas pertanyaan anggota yang ikut RAT, Sabet Muchsin (mantan Direktur Pembukuan PT Mascom Graphy) mengatakan, awal penggunaan uang anggota koperasi bermula, pada saat perusahaan tak mampu memenuhi kebutuhan. Karena terdesak kebutuhan, misalnya untuk beli tinta, plate, dan lainnya, perusahaan tak ada dana, maka uang potongan karyawan yang seharusnya disetorkan ke koperasi, terpaksa digunakan oleh perusahaan.
Dikatakan dia, sering juga pembayaran gaji karyawan yang berasal dari Suara Merdeka (pengorder cetak koran) tidak penuh. Artinya, yang dibayar hanya sejumlah gaji bersih karyawan. Sedangkan hasil potongan dari karyawan tidak diberikan ke pihak PT Masscom maupun ke koperasi sebagaimana seharusnya.
Dalam RAT yang diikuti ratusan anggota itu menyatakan, untuk segera diselesaikannya permasalahan ini, agar mereka dapat mengambil dan menikmati uang mereka sendiri.
‘’Kami mendukung langkah-langkah pengurus yang melaporkan hal itu ke Polda. Kami semua siap, termasuk kalau harus demo. Yang penting uang kami segera dapat kita terima sebagaimana mestinya,’’ ungkap beberapa peserta RAT. Para anggota Kopkar SM Group, saat mendengarkan penjelasan dari pengurus tentang permasalahan uang mereka yang digunakan perusahaan setempat.AR/kie-MP1

Leave a Comment