DR. Sunarta, SH, MH, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur : ‘Anak Desa Yang Memimpin Kota’

Setahun memimpin Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, DR. Sunarta, SH, MH berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung No : Kep-078/JA/04/2018, tertanggal 26 April 2018, kinerjanya langsung diganjar dengan BPI Award dalam hal kepuasan pelayanan publik dan integritas penanganan korupsi. Penghargaan yang diberikan oleh lembaga penelitian independen itu adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja aparatur pemerintah di lembaga Yudikatif.

BPI KPNPA RI (Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara Pengawas Anggaran Republik Indonesia) yang diketuai Drs TB Rahmad Sukendar, SH.MH, telah melakukan serangkaian penelitian terhadap kinerja aparatur di lembaga yudikatif guna mengetahui tingkat kepuasan publik terhadap upaya pemberantasan korupsi.

BPI KPNPA RI fokus yang menilai kinerja Kejaksaan Tinggi Jawa Timur berikut tentang profil dan track record pimpinannya dan hasilnya diketahui bahwa Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Dr Sunarta SH MH memiliki manajemen yang baik dalam menjalankan tugasnya. Kemampuan manajemen individunya patut diandalkan.

Selain dekat dengan bawahan, Kajati Jawa Timur Sunarta juga dinilai cerdas dalam membangun komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Di bidang pemberantasan korupsi, integritas Sunarta tergolong baik. Sehingga, tingkat kepuasan publik atas kinerja lembaga penegak hukum di Jawa Timur itu juga patut dibanggakan.

Atas dasar itulah, BPI KPNPA RI memberikan BPI Award kepada Sunarta sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja aparat penegak hukum di Jawa Timur. Dengan BPI Award ini, diharapkan akan memotivasi kinerja aparat penegak hukum lainnya agar bekerja dengan baik dan benar, sehingga tidak mengecewakan publik.

Lantas siapakah sebenarnya sosok kelahiran Subang 12 Juni 1964 yang berhasil memberikan pelayanan hukum terbaik bagi masyarakat NTT sehingga merasa rukun dan damai serta program-programnya dapat memberikan manfaat yang baik bagi NTT, termasuk mampu menekan angka korupsi di NTT?

ANAK DESA

Anak desa yang pantang menyerah, demikian Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, DR. Sunarta, SH, MH menggambarkan dirinya. Terlahir sebagai bungsu sembilan bersaudara dari keluarga petani yang sederhana, Sunarta kecil tak pernah mengecap mewahnya kehidupan anak-anak kota.

“Untuk biaya menyekolahkan anak-anaknya saja orang tua saya harus kerja keras. Menggembala kambing atau sapi milik tetangga untuk membantu orang tua adalah hal yang biasa bagi saya. Namun itulah yang membentuk pribadi saya menjadi pekerja keras dan tak gampang menyerah,” kata bapak empat anak ini.

Karena desanya termasuk daerah pinggiran Subang, Jawa Barat, tak heran jika jarang sekali anak-anak yang bisa menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SMA apalagi kuliah.

“Orang pertama dari kampung saya yang kuliah ya saya ini. Itupun saya dan orang tua harus kerja keras dan mengencangkan ikat pinggang. Saat kuliah di Unpad, Alhamdulillah, saya dapat beasiswa sehingga sangat terbantu,” kenangnya.

Menyelesaikan sekolah di SMAN 1 Subang, suami dari Iis Komisah ini harus rela berpisah dari orang tuanya dan menyewa kamar kost karena jarak antara rumah dan sekolahnya jauh. “SMA saya sudah kost. SMP sekolah naik sepeda, kalau hujan ya sepedanya yang naik saya (dipanggul),” ceritanya seraya tertawa.

Hingga duduk di bangku SMA, Sunarta masih sama sekali belum tahu ingin kerja apa sebenarnya. Kebetulan, saat kuliah mantan Kajari Palembang ini berteman dengan anak seorang Jaksa. “Waktu lihat orang tua teman pakai seragam, kok kelihatan gagah. Saya jadi pengen seperti itu.”

Lulus kuliah, pria ramah ini bercerita sempat memfoto copi ijasahnya sebanyak 20 lembar. “Semua habis saya pakai melamar kerja. Salah satunya ya di Kejaksaan. Syukurlah saya diterima,” akunya yang saat bersamaan juga mendapat panggilan kerja dari Bank Indonesia namun ditolaknya.

HUKUMAN MATI

Sunarta mengawali karir di Kejaksaan pada tahun 1991 ketika diterima dan ditempatkan sebagai CPNS di Kejari Subang, Jawa Barat.

Setelah lulus Pendidikan Jaksa, Sunarta ditugaskan di Kejari Singkawang hingga dirinya diangkat sebagai Kasi Intel. “Itu tahun 1994-1999, di Singkawang saya ikut menangani kasus kerusuhan Sambas.”

Dianggap berprestasi, oleh pimpinan dipromosikan menjadi Kasi Intel Karawang yang selanjutnya dipromosikan lagi menjadi Kasi Wilayah II Dir Uhek pada JAM Pidsus. “Di sinilah, saya diberi kepercayaan untuk melakukan penyidikan hingga menyidangkan perkara BLBI.”

Setelah itu, Sunarta dipromosikan menjadi Kajari Padang Panjang, Sumatera Barat (selama 2 tahun). Lalu dipercaya menjadi Kajari Banyuwangi selama dua tahun dan menjadi Aspidsus Kejati Bengkulu.

“Saat bertugas di Bengkulu, saya berhasil menangani kasus korupsi yng melibatkan Gubernur Bengkulu saat itu. Mungkin pimpinan menganggap ini prestasi, maka saya dipercaya untuk menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Palembang.”

Dari Palembang, alumni terbaik program Doktor (S3) Universitas Pasundan ini kemudian dipromosikan menjadi Asisten Intelijen Kejati Jateng menggantikan Heffinur (sekarang Kajati Papua).

Dari Jawa Tengah, Sunarta dimutasi menjadi Kasubdit pada JAMIntel di Kejaksaan Agung tahun 2014 bertepatan dengan pesta demokrasi di Indonesia. Dan kinerjanya yang dinilai berhasil sebagai salah satu pilar yang ikut mensuksesan Pemilu 2014, dirinya dipromosikan menjadi Koordinator pada JAMPidum yang menangani masalah hukuman mati. Disinilah namanya mulai dikenal banyak orang karena mampu menghantar terlaksananya hukuman mati para pelaku pelanggaran psikotropika kelas elit itu dengan baik.

Sukses melaksanakan eksekusi mati, Sunarta dipercaya menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Dari Sulsel, dirinya kembali diberi amanah menjadi Kajati Nusa Tenggara Timur selama satu tahun tujuh bulan. “Tidak seperti yang dibayangkan sebelum bertugas di NTT, yang menurut kata banyak orang di NTT watak orang-orangnya keras dan tempramental, ditambah dengan kondisi daerah yang kering. Tetapi setelah saya bertugas di NTT, saya malah mendapatkan keharmonisan di Kejati NTT, antara atasan dan bawahan, rasa kekeluargaan yang kental sekali, dalam melaksanakan segala tugas pokok dan fungsi, sehingga menghasilkan output yang diharapkan oleh pimpinan, khusunya untuk kemakmuran masyarakat NTT serta kepastian hukum bagi masyarakat pencari keadilan.”

Tak hanya di bidang hukum saja Sunarta dinilai sukses, namun juga soal toleransi keagamaan. Sebagai seorang muslim yang memimpin anak buah yang mayoritas Nasrani, Sunarta tak pernah minta dihormati. Dirinya selalu memakai musyawarah untuk mufakat sebagai landasan terpenting dalam menentukan langkah terkait masalah kerohanian.

“Saat saya berhasil mendirikan mushola di Kantor Kejati NTT, itu juga melalui musyawarah dengan seluruh anak buah saya. Bahkan mereka semua tak segan membantu materi maupun moril serta tenaganya demi berdirinya mushola tersebut. Demikian juga saat perayaan hari besar Nasrani seperti Natal, kita bersama-sama mendirikan pohon natal di halaman kantor. Jadinya, siapa bilang kalo NTT itu Nasib Tidak Tentu? Yang benar NTT itu berarti Nikmat Tiada Tara,” ungkap Sunarta yang pernah beberapa tahun menjadi Pemimpin Redaksi Majalah PROSEKUTOR ini.

Kesuksesan di NTT, akhirnya menghantar Sunarta mendapat amanah untuk memimpin Kejati Jawa Timur. Namun meski harus berpindah-pindah provinsi, dirinya mengaku selalu siap berkolaborasi dengan Forkopimda dimanapun dirinya ditugaskan.

“Prinsip saya, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi saya akan mengikuti kearifan dan kebijakan lokal di Jatim sebagai kekuatan dalam membangun daerah,” ujarnya sambil mengatakan hal tersebut akan menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

Sebagai langkah awal untuk beradaptasi, Sunarta biasanya akan memulainya dengan sesering mungkin mengkonsumsi kuliner daerah tersebut. Seperti saat dipercaya memimpin warga Adhyaksa di Jatim, dirinya segera mencoba berbagai masakan khas Jatim, seperti nasi rawon, rujak cingur, dan lainnya. “Saya harus terbiasa dengan makanan dan adat di Jatim, supaya makin cepat beradaptasi dan jatuh cinta dengan Jawa Timur,” ujarnya yang memiliki kesan tersendiri saat menjadi Kajari di Banyuwangi.

FILOSOFI JEMPOL

Dalam kesehariannya, Sunarta tak pernah melepaskan sedikitpun kesederhanaan yang dimilikinya sejak lahir. Dirinya pun senantiasa mempraktekan berbagai filosofi hidup yang didapatkannya sejak kecil maupun semasa kerja di berbagai daerah. Karena baginya, filosofi hidup itu semacam pelajaran sekaligus garis batas yang sanggup menuntun seseorang meminimalis sifat buruk manusiawinya.

“Termasuk filosofi jempol yang banyak mempengaruhi kinerja saya dalam mengemban amanah sebagai seorang hamba penegak hukum.”

Menurutnya, filosofi JEMPOL yang diyakininya dalam mengemban tugas dimanapun dirinya ditempatkan adalah JujurEling (selalu ingat), Mituhu (taat), Prigel (tangkas/mampu), Open/Ober (murah) dan Legowo (ikhlas). Dan ini dapat diartikan bahwa Pemimpin harus memiliki sifat jujur kepada siapapun termasuk kepada anak buahnya akan keterbatasan terhadap sebuah kemampuan, jujur juga terhadap diri sendiri, tidak boleh pura-pura bisa padahal sebenarnya tidak bisa.

“Sedangkan ELING artinya dalam tingkah laku seorang pemimpin itu selalu ingat bahwa ada yang mengawasi. Kalau bukan atasannya, masih ada Allah SWT yang juga melihat tingkah polahnya. MITUHU punya makna bahwa pemimpin juga harus taat akan aturan yang dibuat dan disepakati, sehingga tidak ada yang namanya pemimpin bebas melanggar aturan yang dibuatnya. Sementara PRIGEL maksudnya bahwa seorang pemimpin juga harus punya skill untuk memimpin dan pengetahuan luas, agar tidak lagi tergantung pada kemampuan anak buah,” ungkap penyuka bandeng kropok ini.

Sedangkan makna pada Open atau Ober dapat diartikan murah hati suka menolong dan tidak sombong. “Ini sejalan dengan huruf terakhir pada JEMPOL yakni L yang berarti Legowo bahwa seorang pemimpin harus memberikan keteladanan dan ikhlas dalam membantu dan mengembangkan anak buahnya untuk suatu saat menggantikan dia.”

Hal unik yang dimiliki jaksa yang populer dengan panggilan ‘Jaksa Pembunuh’ ini (karena sukses mengemban tugas sebagai ‘leader’ saat eksekusi mati beberapa waktu silam-Red) karena dirinya tak menelan mentah semua filosofi hidup yang diyakininya. Dirinya selalu mencari makna filosofi tersebut dengan beberapa perbandingan, sehingga tak hanya mengerti lantaran kalimatnya bagus atau menarik, namun juga mampu mengartikan dalam kesehariannya.

Bagi pria yang meraih gelar S3 nya dengan predikat cumlaude ini memaknai jempol sebagai salah satu bagian dari tubuh manusia yang sarat makna dan nilai filosofi. Singkatnya, tanpa jempol, kita tidak bisa menggenggam atau memegang suatu benda dengan kuat. Keberadaan jempol membuat empat jari lainnya lebih produktif. Maksudnya, jempol tidak akan kuat kalau hanya sendiri, demikian pula empat jari lainnya tidak kuat jika tanpa jempol.

“Karena itu, jempol merangkul empat jari lainnya untuk melakukan aktifitas secara bersama-sama. Semua aktifitas yang dilakukan oleh jempol karena dorongan kemurahan hati (greatfulness) dan pikiran sehat (senses). Bila diacungkan berarti si pemilik jempol bersyukur kepada Tuhan, juga bisa dimaknai menggerakkan atau mengubah orang lain agar bisa menjadi orang yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka. Semuanya jika direnungkan, kita akan mendapatkan rangkaian kata indah yang sarat makna bahwa jempol adalah jari yang netral, yang bisa bersahabat dengan jari lainnya.”

Disamping itu dengan berontologi, dia juga menekankan agar dalam menjalankan tugas senantiasa bekerja dengan mengharap Ridho Allah SWT.

“Melayani masyarakat sama dengan memburu bayang-bayang, akan terasa capek karena tidak bisa memuaskan semuanya. Namun jika kita bekerja untuk mendapatkan Ridho Allah rasa capek tersebut akan hilang.”

Baginya, menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas) sama pentingnya. Sehingga dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, tidak perlu bekerja dengan iming-iming mendapat pujian dari pimpinan. “Karena jika kita bekerja dengan baik, niscaya Allah akan membalasnya,” tekan Sunarta.

Dirinya juga mengaku bahwa jabatan Kajati yang berhasil dijalaninya adalah bonus dari Sang Pencipta. “Saya ini anak desa namun bisa dipercaya memimpin kota, ini adalah karunia Illahi yang besar buat saya.”

Sebagai orang yang telah kenyang pahit manisnya hidup, membuat ayah empat anak ini selalu mengedepankan profesionalitas dalam bekerja. Dirinya tak mau jika hasil kerja keras dalam menggapai cita-citanya hilang hanya karena kerja yang tak sesuai dengan peraturan dan petunjuk pimpinan.

“Kerja harus profesional, proporsional dan mengedepankan hati nurani. Karena menegakkan hukum tanpa hati nurani ya sama saja dengan robot. Hidup ini terus mengalir, yang buruk ambilah hikmahnya, kejadian yang baik harus diperhatikan,” pungkas jaksa yang juga petani ini.franky-MP1­

Leave a Comment