Pemberitaan Dukung Kinerja

JAKARTA –  Semua jenis Sosial Media (sosmed) gratis, facebook, twitter, youtube, instagram dan lainnya, modalnya hanya internet, satu untuk semua dan itu harus aktif untuk mendapatkan simpati publik melalui satu kegiatan.
Hal itu mendorong Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) DR.Jan S Maringka dalam acara pembukaan Situs Web Workshop dan Pengelolaan Media Sosial yang berlangsung di Badan Diklat Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta, Kamis (28/3).
Pembukaan Workshop ditandai dengan pemukulan gong dilakukan secara bergantian, mulai dari JAMIntel Kejagung Jan Maringka, Kaban Diklat Kejaksaan Setia Untung Arimuladi dan Kapuspenkum DR. Mukri. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diselenggarakan oleh Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Puspenkum Kejagung) yang dihadiri oleh Ketua Seksi Penerangan Hukum Kejati se Indonesia, bertemu Kejagung, Jaksa fungsional dan para pejabat dari berbagai bidang.
JAMIntel mengatakan untuk melakukan suatu kegiatan baik yang berskala kecilpun jika diminta maka gaungnya akan besar.
“Katakanlah kita mau melakukan suatu kegiatan yang banyak kita lakukan, tetapi jangan pernah lakukan maka itu akan tidak bermanfaat. Jadi kalo kita mau melakukan kegiatan sekecil apapun tapi kalo berikan kesekian ribu orang, sekian juta orang, maka gaungnya akan berbeda. Nah ini adalah cara berfikir yang harus dilakukan kita rubah, mengapa kita perlu menggunakan media sosial, ”ujar Jan Maringka.
Ditegaskan, memimpin dengan hati, juga harus sepenuh hati. Dan ini merupakan cara optimalisasi tugas dalam kontek memulihkan trus publik . “Jadi, tolong simpati publik kita harus bekerja dengan cara-cara memberikan informasi memberikan publikasi, diberikan Kejaksaan adalah bagian dari penegakan hukum,” katanya.
Jan Maringka setuju, itulah penegakan hukum yang berbeda dengan industri. “Penegakan hukum ini berbeda dengan industri, kalo industrinya berhasil, produksinya meningkat, tetapi penegakan hukum sebaliknya, bagaimana kita mampu menurunkan tingkat pertentangan dan meningkatkan kesadaran hukum masyarakat,” tandasnya.
Selain itu, program pencetus Jaksa Menyapa ini mencontohkan, program Jaksa Menyapa yang dilengkapi dengan RRI itu modalnya hanya suara. “Media Sosial utama-utama, tetapi hasil bukan utama,” ujar mantan Kajati Sulsel sembari mengatakan yang paling penting adalah bentuk dialog interaktif yang dilakukan oleh Kejaksaan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.
Sementara Kapuspenkum Mukri dalam laporannya mengatakan, maksud dan tujuan lokakarya ini adalah untuk meningkatkan kemapuan dan pengetahuan para Humas Kejaksaan RI yang lebih profesional dan andal serta melek dengan peningkatan tekhnologi informasi dan kominukasi, baik dukungan dengan media dan masyarakat, diskusi, seminar, publik dan jadi termasuk berita menarik atau siaran pers dan keterangan yang menarik dan efektif di medsos.
“Mendukung setiap kegiatan yang memiliki nilai berita dan nilai positif dapat dipertanyakan dengan baik dan cepat bagi masyarakat, demikian halnya dengan Kejaksaan meraih kepercayaan masyarakat atau trus publik ,” ujar Mukri.
Mukri tegaskan, Tema workshop adalah, Optimalisasi Publikasi Menuju Humas, Kejaksaan menjadi EMAS (Efektif Modern Akuntabel dan Solid). Selain itu, dalam kesempatan ini Mukri juga membahas beberapa laporannya terkait dengan masing-masing Kejati tentang aktif tidaknya publikasi situs web , medsos perjanuari 2018 hingga maret 2019, dan laporkan ada donasi Kejati yang aktif, kurang aktif, sedang dan tidak aktif. muzer / franky-MP1

Leave a Comment