‘Kemplang’ Rp 328 Miliar Milik Nasabah, Halim Susanto Didakwa Jalankan Praktik Bank Gelap

SEMARANG – Mantan Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Jateng Mandiri, Halim Susanto bin Gunawan didakwa jalankan praktik bank gelap. Terdakwa tidak memiliki izin usaha kegiatan perbankan dari Bank Indonesia, karena izin usahanya berupa koperasi.
Hal itu tertuang dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang perdana pemilik KSP Jateng Mandiri ini di Pengadilan Negeri Semarang, Senin (24/9). Sidang perkara pidana Nomor 627/PidSus/2018/PNSmg itu, dipimpin hakim ketua Suparno SH didampingi hakim anggota Casmaya SH dan Bakri SH, serta panitera pengganti   Eddy Asmoro SH.
Dalam dakwaannya, JPU Kejaksaan Negeri Kota Semarang, Kurnia SH mengatakan, Halim Susanto selaku Ketua KSP Jateng Mandiri telah melakukan tindak pidana.

Terdakwa pada kurun waktu Maret 2011 sampai dengan Mei 2016 menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia, yaitu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang (UU) nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

“Dalam pasal tersebut, dinyatakan setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai bank umum atau bank perkreditan rakyat dari pimpinan Bank Indonesia,” kata Jaksa Kurnia.
Namun, terdakwa tidak mengantungi izin usaha tersebut, karena izin usahanya hanya berupa koperasi. Akibatnya, sebanyak 1.200 orang nasabah menjadi korban dan nilai kerugian mencapai Rp328 miliar.

Atas perbuatannya itu, terdakwa diancam pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun, dengan kewajiban membayar denda sebesar Rp10-20 miliar.
Sidang sendiri berlangsung molor 2,5 jam dari jadwal semula pukul 10.00 WIB. Sedikitnya 50 orang korban yang merupakan wakil dari 1.200 orang nasabah sudah datang sejak pagi hari.
Salah satu korban, Hendi warga Semarang mengaku sangat kecewa karena sempitnya ruang sidang. Sidang digelar di Ruang Prof Oemar Seno Adji SH yang berukuran kecil, sehingga tak mampu menampung puluhan pengunjung.
“Saya sangat kecewa, seharusnya hakim menggelar sidang di ruang yang besar, sehingga kami bisa menyaksikan jalannya sidang dengan enak, tidak berdesak-desakan seperti ini,” keluh pria yang mengaku kehilangan dana hampir Rp 500 juta ini.
Ruang sidang terbesar di PN Semarang yakni Ruang Kusuma Atmadja yang berada di samping ruang Prof Oemar Seno Adji SH. Ruangan berkapasitas lebih dari 100 pengunjung itu sudah dipakai menyidangkan perkara lain dengan nyaris tanpa pengunjung.
Usai pembacaan dakwaan, tim penasihat hukum terdakwa mengajukan eksepsi dalam sidang berikutnya yang akan digelar 2 Oktober mendatang.franky-MP1

teks foto: terdakwa Halim Susanto saat turun dari mobil tahanan (topi hitam pakai rompi tahanan)

Terdakwa Halim Susanto saat mendengarkan dakwaan jaksa di PN Semarang, Selasa (25/9)

Leave a Comment