Hajar Istri Sendiri Berakhir Di Tahanan

SEMARANG – Lantaran melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap istrinya sendiri, warga Perum Graha Wahid Cluster Malibu, Sambiroto, Tembalang, Semarang, Andi Mulyono langsung dijebloskan ke dalam tahanan,usai dilakukan pelimpahan berkas perkara dan tersangka dari penyidik Polsek Tembalang ke penuntut umum (PU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang, Senin (10/9).

“Pada Juni 2018 kasusnya kami laporkan ke Polrestabes Semarang, kemudian dilimpahkan ke Polsek Tembalang, tapi di Polsek tidak ditahan, padahal surat penahanan sudah keluar, tapi ndak ditahan di polsek. Makanya, kami datang ke Kejari minta untuk ditahan,” kata korban, yang juga istri Andi, Diana Alexandra Teguh, disela-sela pelimpahan kasus tersebut.

Dijelaskannya, kasus tersebut bermula, saat dirinya memutuskan menikah dengan Andi pada tahun 2000. Selama dirinya menjalani biduk rumah tangga, ternyata Andi sering memukul dan menjambak dirinya. Tak hanya itu, Andi juga sering menendang, dan menyebutkan kata-kata kasar, kemudian memukul dan mengancam.

Diana sendiri mengaku takut melaporkan kasus itu ke polisi, karena saat itu, Andi sempat mengancam, kalau nekat melaporkan, begitu bebas dari tahanan, dirinya dan anaknya akan dibunuh. Ancaman ini membuat perlakuan KDRT yang dilakukan Andi selama 16 tahun tak pernah sama sekali dilaporkan.

“Puncaknya tahun 2016, dia (Andi,red) mukulin saya sampai ndak bisa jalan, maupun duduk dan akhirnya keluarga saya mendorong untuk melapor,  karena keluarga takut nanti saya malah mati konyol, apalagi saya punya dua anak,”jelasnya.

Atas perlakuan itu, Diana yang sebelumnya warga Demak, melaporkan ke Polsek Mranggen. Akhirnya berujung perdamaian, karena Andi meminta kesempatan untuk berubah. Selain itu, didalam perdamaian di Polsek, Andi juga sudah berjanji diatas materai kalau mengulangi melakukan KDRT bersedia diproses hukum.

DIGUGAT CERAI

Dari perjanjian itu, lanjut Diana, Andi sempat berubah beberapa bulan, hanya saja, apabila dirumah Andi tidak bersedia mengobrol maupun memberikan nafkah. Bahkan tahun 2017, Andi kembali melakukan kekerasan, namun saat itu dirinya masih berpikir positif dan menganggap hal biasa dalam perkawinan.

“Tapi saya jadi kaget, karena Andi gugatan cerai tepatnya Mei 2018, dan disitu dia kembali melakukan kekerasan, mulai memukuli lagi. Saya memang takut apalagi anak-anak saya masih kecil,  bahkan kalau dia marah ngomongnya jorok-jorok, termasuk ke anak-anak,”sebutnya.

Diana menambahkan, penyebab terjadinya KDRT tersebut sebenarnya hanya masalah sepele, yakni karena diminta anaknya yang paling besar menjemput anak bungsunya. Sementara terkait gugatan cerai tersebut, dikatakannya saat ini sedang dalam proses banding di Pengadilan Tinggi (PT) Jateng.

“Saya banding menuntut nafkah anak, maupun nafkah saya, karena saya yang dicerai. Selain itu masalah harta gono gini terkait rumah yang kami tempati karena hasil waris orangtua saya, jadi saya minta dibuat atas nama anak-anak. Jadi bandingnya bukan untuk mempertahankan rumah tangga.”

Kuasa hukum Diana Alexandra, Syukron Abdul Kadir menambahkan, kliennya sengaja meminta jaksa untuk menahan, karena dikhawatirkan kalau tidak ditahan akan melakukan tindak pidana pembunuhan seperti ancaman yang pernah disampaikan ke kliennya dan anak dari kliennya. Selain itu, atas kekerasan yang dilakukan terhadap kliennya, masih membawa luka dan terasa hingga saat ini.

“Kami mohon diberi keadilan bagi klien kami, makanya kami mohon pelaku untuk ditahan, kekhawatiran kami yang bersangkutan akan melakukan kekerasan yang sama. Apalagi kasus ini, sudah dua kali dilaporkan, kalau tidak nanti malah melakukan hal yang sama,”imbuh kandidat doktor program ilmu hukum Unisula Semarang ini.

Syukron menyebutkan, kekerasan yang dilakukan terhadap kliennya antara lain pernah dipukul menggunakan kunci mobil. Kemudian kliennya, pernah banting di dinding. Bahkan, kliennya sudah mengatakan ampun, namun tetap terus menerus dibanting.

“Waktu itu kalau tidak ada tetangga datang mungkin klien kami sudah meninggal. Kami sayangkan, karena pernikahan tersebut merupakan yang pertama bagi klien kami, namun bagi pelaku yang kedua,”ujarnya.

Terpisah, Kasi Tipidum Kejari Kota Semarang, Bambang Rudi Hartoko, enggan berkomentar terkait kasus itu. Pihaknya meminta langsung kepada Kajari Semarang. Dirinya beralasan, kasusnya masih dalam tahap pemeriksaan, sehingga pihaknya tidak berani memberikan tanggapan.

Sama halnya, pihak yang mendampingi Andi saat akan di tahan, wanita yang tampak seperti penasehat hukumnya tersebut, juga enggan memberikan komentar, sekalipun PROSEKUTOR sudah menjelaskan dari media dan hendak meminta konfirmasi tanggapan terkait kasus KDRT ini.

Tersangka sendiri setelah selesai mengalami pemeriksaan di Kejari Kota Semarang langsung dititipkan di Lapas Kedungpane Semarang.fabi-MP1

Leave a Comment