Yuni Artha Manalu, SH, MH, Komisioner Komisi Kejaksaan Republik Indonesia : ‘Jangan Pernah Membedakan Diri Sendiri Dengan Sebutan Kesetaraan Gender’

Dasar dari emansipasi wanita sudah ada di depan mata, yaitu perjuangan R.A. Kartini. Dengan dibukukannya tulisan-tulisan Kartini oleh Mr.J.H Abendanon yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” sungguh menjadi inspirasi bahwa kaum wanita sejatinya bisa maju dan berkembang, baik dari sisi pemikirannya maupun tindakannya untuk memperjuangkan hak wanita dan memajukan bangsa.

Siapapun yang memasuki rumah di kawasan Perumahan Legenda Wisata Cluster Mozart, Cibubur, Jawa Barat pasti akan berpikir bahwa pemilik rumah adalah sosok laki-laki yang macho. Namun ternyata pemilik rumah bergaya minimalis naturalis ini adalah seorang wanita
single parent.

Adalah Yuni Artha Manalu, SH, MH yang membesarkan anak sendirian tanpa bantuan pasangan, tentunya bukanlah hal yang mudah. Wanita tangguh yang berprofesi sebagai pengacara ini sudah cukup lama menjalani peran ganda sebagai sosok ayah dan ibu.
Yuni mengaku tidak kesulitan membesarkan kedua anaknya karena sejak kecil mereka sudah paham ibunya adalah seorang pekerja keras.
Anak-anak sudah paham pekerjaan saya, yang penting perhatian dan komunikasi harus tetap dijaga dengan anak-anak. Mungkin bagi sebagian orang, yang mengalami kondisi seperti saya, bisa gila dan tidak bertahan. Tapi saya melihat kedua anak kecil saya, yang masih memiliki masa depan, untuk itu saya bangkit,” tutur Yuni kepada PROSEKUTOR.

Wanita yang memiliki mitos kerja dengan membina hubungan baik, bersahabat, tidak suka meremehkan orang lain dan suka menolong ini, bersama beberapa wanita karir lainnya membidani lahirnya wadah Srikandi Indonesia atau sering mereka sebut dengan Bank
Perempuan. Yang dimaksud disini adalah kami mengajak perempuan-perempuan berprestasi untuk bersatu
dalam Srikandi Indonesia guna menghadapi Tahun Pemilu 2019.

Yuni menegaskan bahwa ide bank perempuan ini muncul tiba-tiba setelah melihat bahwa banyak perempuan hebat di Indonesia yang terpencar-pencar sehingga terkadang prestasinya terlewatkan manakala pemerintah mencari sosok berprestasi. Dengan Srikandi Indonesia, kami berharap bisa membantu Pemerintah dengan menampilkan tokoh-tokoh hebat dari kaum perempuan.

Saat ini ada lebih dari 14 wanita berprestasi dari berbagai profesi mulai dari bupati, walikota, praktisi hukum, hingga Direktur Angkasa Pura yang bergabung dengan Srikandi Indonesia. “Jika kita perhatikan dengan seksama, semangat Kartini bukan karena untuk meninggikan kaum wanita melebihi kaum lelaki karena ia menyadari fitrahnya, melainkan hanya ingin disetarakan kedudukan wanita disamping kedudukan kaum lelaki. Kartini menyadari pentingnya seorang wanita dalam keluarga sebagai pendidik pertama dalam mencetak generasi bangsa masa depan, karena yang namanya pelajaran moral dan agama, pintu masuknya tidak lain hanya berada di dalam lingkungan keluarga, tentunya wanita harus bisa mengambil perannya disana,” tegas Yuni.

Namun, tambah wanita penyuka wayang ini, berbicara bahwa wanita masa kini tidak bisa secara monolisme memandang perannya. Banyak peran yang bisa dimasuki oleh kaum wanita di era saat ini. Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang notabenenya sebagai era
demokrasi ini, peran wanita dalam hal berkontribusi terbuka lebar, baik berkontribusi bagi keluarganya ataupun bagi masa depan bangsanya.

“Wanita masa kini memang diharapkan bisa lebih tangguh dan berkembang untuk menghadapi tantangan zaman. Selain itu, bukan saatnya lagi wanita masa kini bersembunyi di belakang pria hanya karena masih menjunjung tinggi sifat ‘kelemahan’ yang selama ini terpatri di kepribadian kaum wanita pada umumnya. Tanpa semangat dan motivasi tinggi, sulit rasanya untuk mengembangkan bangsa ini.”

CERDAS, TANGGUH DAN KAYA IDE
Seperti yang dilakukan Kartini, menjiplak konsep kekinian wanita Belanda pada masanya membuatnya berkembang dengan pikiran terbuka untuk memajukan wanita Indonesia. “Kita pun di masa ini bisa melakukan hal yang sama. Banyak membaca, menambah referensi
informasi, cari pengalaman disana sini dan mampu mengembangkan berbagai ide untuk terus memberi inspirasi bagi banyak orang adalah hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan diri.”

Yuni menambahkan bahwa sebagaimana perjuangan Kartini yang berani untuk mendobrak budaya lama menjadi budaya baru tentang hak dan martabat wanita, di masa ini pun kita harus melakukan hal yang sama. “Untuk menjadi wanita modern, kita harus menyingkirkan berbagai pemahaman masa lalu bahwa wanita itu lemah, penakut dan atau tidak bisa mandiri. Di zaman yang serba maju ini, wanitapun harus berpikiran maju yang diimbangi dengan tekad kuat untuk bisa semakin eksis dan bermanfaat bagi banyak orang. Hapus pemikiran lama dan buktikan bahwa wanita bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh kaum pria.”

Yuni pun bercerita bagaimana dirinya yang harus berjuang sendiri mendesain rumah tanpa komputer bahkan hanya bermodalkan penggaris serta pensil, sampai mencari borongan pekerja bangunan. “Pada saat saya memilih dan mendesain rumah, saya melakukan riset dengan merumuskan semua yang menjadi kebutuhan saya. Hingga pada akhirnya saya harus memilih lokasi dan mendesain rumah baru sebagai permulaan yang baru,” tambah Yuni dengan menunjukkan senyum bahagia.

Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dan tinggal saja namun juga merupakan kekuatan baru untuk memulai hidup yang lebih baik. Rumah yang diartikan sebagai “permulaan yang baru” bagi Yuni, dipertimbangkan dengan kehidupan masa depan kedua
anaknya. Hingga pada akhirnya, Ia pun mengusung tema ‘naturalis minimalis’, dengan mengedepankan nuansa minimalis yang natural tanpa ornamen yang tak perlu. Tidak hanya itu, Yuni juga mencoba mendesain rumah dengan sistem nol energi yang mana setiap elemen rumah baik jendela, pintu, dan sanitasi merupakan material yang ramah lingkungan.

Proses pembuatan rumah, memang tidak semudah yang Ia pikirkan. Ia pernah coba mengerjakan sendiri, namun ternyata berat dan memakan waktu lama. Beruntung, ia memiliki sahabat yang ringan tangan sehingga rumah kediamannya selesai dirombak dengan hati
sekaligus bisa mengajarkan kepada kedua anaknya bagaimana berjuang membangun rumah idaman untuk hidup yang lebih baik tanpa sentuhan seorang ayah dan suami. Yuni berharap agar rumah itu bisa menjadi simbol kekuatan sama seperti dirinya yang harus berjuang sebagai single parent.

Suatu hari ketika Yuni mengikuti donor darah ditanya oleh dokter yang menangani kenapa dirinya tidak takut menghadapi jarum suntik. Yuni menuturkan bahwa ketakutan yang terhebat sudah pernah dialaminya yaitu saat ditinggal pergi oleh suami karena dipanggil Sang Pencipta. Setelah kejadian tersebut bagi Yuni tak ada lagi ketakutan yang pernah dia alami sampai saat ini. Yuni bertutur bahwa saat tahun 2009 ditinggal suaminya lantaran tumor otak, dirinya hampir menggugat Tuhan. “Saya bertanya kenapa Tuhan melakukan ini terhadap saya, padahal anak-anak saya masih kecil. Apa salah saya? Apa yang membuat Tuhan harus mengambil sosok ayah dalam keluarga kecil kami?”

Hampir setahun Yuni mengalami kekecewaan yang menyebabkan dirinya down. “Semua hiburan dari teman-teman seakan lewat dari kuping satu ke kuping lainnya. Hingga suatu malam saya tersadar sehabis berdoa bahwa semua orang akan mati, semua akan meninggalkan
orang yang disayanginya karena memang beginilah siklus kehidupan. Mulai dari situlah saya menata hati saya dan menekankan pada pribadi saya bahwa Tuhan telah memberi tugas baru pada saya sebagai kepala keluarga seutuhnya untuk kedua anak saya, sekaligus menjadi ibu bagi mereka.”

KOMISIONER KOMISI KEJAKSAAN
Seiring perjalanan waktu, semangat Kartini untuk menyamakan kedudukan perempuan dengan laki-laki tak pernah padam di negara ini. Kini di era modern, banyak Kartini-kartini Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi di berbagai sektor, tak hanya di dalam negeri bahkan hingga mancanegara. Para perempuan ini berkecimbung mulai dari sektor hukum, keuangan, perdagangan, perikanan, perindustrian, pertambangan dan sektor lainnya. Mereka turut membahu membangun bangsa dan negara, menyumbangkan pemikiran dan visi mereka, dan menginspirasi wanita Indonesia untuk meraih cita-cita dan berkarya. Dan Yuni termasuk Kartini modern yang memilih hidup dan berkarir di dunia hukum sebagai pengacara.

Menjadi pengacara sejak 1993 bergabung Lulus S-1  Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta, dimana sekitar 70 alumninya sekarang membaktikan diri di Kejaksaan, di antaranya Jan Maringka (Jamintel), Sudung Situmorang, Johni Ginting, Zaenuri dan Babul Khoir.
Sedangkan Universitas Kristen Indonesia (UKI) adalah tempat Yuni menuntaskan S-2 nya.

Saat ini tengah menyelesaikan program S-3 nya di Universitas Diponegoro Semarang. Karir pengacara yang ditekuni Yuni diibaratkan sebagai ‘kecelakaan sejarah’. “Karena sejak awal memang saya bercita-cita menjadi seorang dokter, namun semua sirna setelah saya gagal
masuk Sipenmaru, sementara bapak saya begitu ingin menjadikan putrinya sebagai seorang pengacara,” kisah anak ke empat dari tujuh bersaudara ini. Karenanya saat diberi formulir pendaftaran di Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta, dengan bersungut-sungut Yuni mengikuti kemauan sang ayah. Dan yang membedakan seorang Yuni dengan kebanyakan anak lainnya, meski tak sejalan dengan nuraninya, namun Yuni menekankan bahwa frustasi bukanlah jalan keluar.

“Saat itu saya bertekad untuk bisa secepatnya meninggalkan Unkris. Satu-satunya jalan yaitu dengan lulus secepatnya. Dan syukurlah hanya dalam waktu 3,5 tahun saya berhasil menyandang gelar Sarjana Hukum di tahun 1993.” Lulus Unkris, Yuni mulai mempraktekan kepiawaiannya menjadi seorang pengacara setelah bergabung dengan Hakim Simamora & Partner. Tak sedikit kasus-kasus besar yang dibelanya salah satunya perkara PT Lambrata cs tentang pembebasan tanah. Keberhasilannya memenangkan perkara tersebut membuat Yuni dihadiahi mobil Katana merah yang mengandung makna agar langkah Yuni semakin berani dan sukses. Tahun 1994 dirinya dipersunting Leonardo Marpaung yang berprofesi sebagai dokter dan diboyong ke Riau karena penempatan tugas. Tahun 1996, Yuni kembali ke Jakarta karena suaminya mengambil program spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sementara dirinya kembali menekuni profesi pengacara dengan mendirikan Yuni Artha Manalu (YAM) Law Firm.

Tahun 2013 dirinya ditawari untuk bergabung dengan Partai Nasdem dan berlanjut dengan menyandang jabatan Sekjen BAHU (Badan Advokasi Hukum) Nasdem DKI. Setahun kemudian dicalonkan menjadi Caleg DPRD Kota Jakarta wilayah Dapil 5 (Jakarta Timur). Meski gagal, karir Yuni bukannya berhenti namun dirinya semakin berkembang dengan keberhasilan menjadi Komisioner Komisi Kejaksaan yang dilantik Presiden Jokowi 6 Agustus 2015.

Sebagai kaum perempuan, Yuni mengaku tidak kesulitan dalam berkarir di dunia hukum. Karena baginya semua pekerjaan itu diibaratkan sebagai sebuah ‘kesulitan’ dan semua kesulitan itu pasti ada jalan keluarnya. Diancam saat menangani sebuah kasus menjadi sesuatu yang biasa baginya serta tak mengenal kata takut. “Karena prinsip saya adalah membina hubungan baik, bersahabat, tidak suka meremehkan orang dan gemar menolong orang lain. Saya percaya akan hukum ‘tabur tuai’.” ‘Tabur tuai yang dimaksud oleh Yuni adalah ‘barang siapa menabur kebaikan, pasti akan menuai kebaikan pula. “Demikian juga sebaliknya.”

Dan selama menjadi anggota Komisioner Komisi Kejaksaan, Yuni mendapat panggilan akrab seperti Mami dan Inces Mami atau Princess Mami. Panggilan ini ditujukan kepada ibu dari Martin Keviano Lamora Marpaung dan Marcella Karyn Namora Marpaung, karena banyak dari jaksa-jaksa muda di daerah wilayah kerjanya sebagai Komjak (Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bengkulu, Bali dan Maluku) maupun rekan-rekan kerjanya yang menganggap Yuni sebagai ibu mereka. “Saya itu bila menampung keluhan, aspirasi sampai ‘curhat’ dari jaksa di daerah, selalu yang utama memakai hati seorang ibu. Dan mungkin karena itu mereka merasa nyaman atau bagaimana, sehingga kemudian mereka memanggil saya dengan sebutan seperti itu. Apalagi saya menerapkan pola ‘rekonstruksi model pengawasan’ selama dipercaya sebagai Komisioner di Komjak,” ungkap wanita penyuka berbagai jenis olah raga ini. Menarik benang merah antara Kartini dahulu, sekarang dan garis kehidupan yang dijalaninya, Yuni menekankan bahwa pendidikan dan kemajuan yang harus dicapai perempuan tidak boleh
hanya karena semangat bersaing dan tidak ingin ketinggalan dari laki-laki. Tingkat pendidikan perempuan yang semakin tinggi dan karier yang cemerlang haruslah berbanding lurus dengan kualitas keluarga dan kepribadian anak-anak yang dilahirkannya. Pendidikan bagi perempuan haruslah berangkat dari filosofi dasar bahwa mendidik seorang perempuan berarti mendidik satu keluarga dan mendidik satu keluarga sama dengan membina satu generasi. Barangkali di situlah kemuliaan perjuangan Kartini bagi kemajuan negeri dan arti Kartini di masa kini.

“Mari wanita Indonesia, jangan hanya bersembunyi di belakang. Buktikan bahwa kita BISA dan MAMPU untuk menjadi wanita mandiri di masa ini. Teruskan perjuangan Kartini dengan berbagai potensi yang kita miliki. Jangan pernah membedakan diri kita sendiri dengan sebutan kesetaraan gender. Jangan bilang karena kita perempuan….kerja dan kerja saja. Kesetaraan akan datang karena kita bisa dan mampu.”franky-MP1

Leave a Comment