JPU Kejari Semarang Tunda Tuntutan Kasus Penipuan

SEMARANG – ​Sidang perkara penipuan dan penggelapan yang mendudukkan Kasi Kemitraan Komunikasi dan Teknologi Informasi Dinas Kominfo Kota Semarang nonaktif, Taufan Yuristian Dalimarta telah memasuki tahap tuntutan rabu kemarin (7/3). Akan tetapi, karena JPU belum siap dengan tuntutannya, maka sidang yang berlangsung di PN Semarang tersebut ditunda hingga Rabu minggu depan.

Menyikapi penundaan itu, Kasi Pidum Kejari Kota Semarang, Bambang Rudi Hartoko beralasan, adanya efek dari kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang, yang dilakukan tim Pidana Khusus (Pidsus), maka banyak jaksa-jaksa yang dikerahkan untuk membantu penanganan operasi tersebut. Ia menilai, tuntutan kasus tersebut belum jadi, karena jaksa belum siap, sehingga dilakukan penundaan.

“Kasusnya masih dikaji dari berbagai unsur dan pertimbangan, karena pertimbangannya jelas banyak. Minggu depan (Rabu,red) sudah pasti dilakukan penuntutan,”kata Bambang Rudi Hartoko kepada wartawan dikantornya, Kamis (8/3).

Berbeda dengan alasan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Sutardi mengaku berkas tuntutan masih dimeja pimpinan (Kasi Pidum,red) sehingga sidang sengaja ditunda. Dalam dakwaanya, Sutardi menjerat, Taufan dengan ancaman primair Pasal 378 KUHP dan subsidair pasal 372 KUHP.

Sedangkan, terdakwa Taufan, yang merupakan mantan Kasi Pagelaran Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini dalam persidangan mengaku, menggunakan CV Sarijaya untuk menipu pengusaha bernama Sutarman tersebut. Namun demikian, ia menegaskan, kalau CV Sarijaya memang mitra Disbudpar karena 2006 lalu pernah mengadakan kegiatan sampai 3 kali, yang salah satunya Semarang Night Carnival. Ia juga mengaku, saat menawarkan pekerjaan tersebut ke Sutarman memang belum ada SPK atas proyek itu.

Ia menyatakan, kalau cek atas nama CV Sarijaya, yang mengeluarkan adalah Sumadiono selaku komisarisnya

​ dan ​sifat cek tersebut sebenarnya hanya cover cek atau jaminan cek, sehingga ia sendiri mengaku memang tidak ada isi didalam cover cek tersebut, karena sifatnya hanya sebagai jaminan. Ia juga mengaku, kalau berkomunikasi dengan Sutarman
“Cek itu saya terima, sudah ada angkanya, kalau yang nulis saya ndak ingat. Cek itu juga saya katakana untuk jaminan saja, saya sampaikan kosong tak apa-apa,”kata Taufan saat dicecar majelis hakim yang dipimpin, Pudjiastuti Handayani.

Dalam kasus itu, terdakwa Taufan, bertemu dengan saksi Sumadiono selaku komanditer CV Sari Jaya. Kemudian, terdakwa mengaku mendapat pekerjaan pelaksanaan kegiatan Semarang Night Carnival 2017 dan Semarang Sound Carnival 2017 di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang. Untuk melaksanakan kegiatan itu, dibutuhkan modal antara Rp 500 juta hingga Rp 800 juta. Karena status Taufan sebagai PNS tidak diperbolehkan menjadi rekanan penyedia barang dan jasa di lingkup Pemkot Semarang.Karena CV Sari Jaya tidak memiliki modal sebanyak itu, keduanya sepakat untuk membagi tugas. Terdakwa mencari pemodal untuk melaksanakan dua proyek tersebut atas nama CV Sari Jaya sedangkan Sumadiono menyerahkan cek atas nama CV Sari Jaya sebesar Rp 1,2 miliar. Cek ini akan diberikan kepada pemodal sebagai jaminan atas modal yang diberikan. marnie​-MP1​

Leave a Comment