OTT Di BPN Semarang

SEMARANG – Kejaksaan Negeri Semarang melakukan konfrensi pers terkait operasi tangkap tangan (OTT) pada Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang.  Preskon  dihadiri oleh Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng, Heru Chaerudin,  Kajari Semarang, Dwi Samudji, Kasi Pidsus Kejari Semarang Adi Wicaksono dan Ketua Tim Waluyo yang juga Kasubagbin Kejari Semarang.
Dipamerkan pula koper hitam yang berisi gepokan uang dan puluhan amplop barang bukti hasil OTT tersebut.
“Tindak lanjut perkara OTT di kantor  BPN Kota Semarang, sebenarnya kami sudah melakukan penyelidikan. Namun Tim kami mundur karena jumlahnya hanya 1 amplop waktu itu. Tetapi kami tak lantas berhenti, hingga akhirnya kemarin kami dapatkan bara​n​g bukti sejumlah Rp 32.400.000​,-​” terang Kajari di hadapan puluhan wartawan media cetak, ​cyber dan ​elektronik hari ini (7/3) di kantor Kejari Semarang, Jl Abdurrahman Saleh.
Saat OTT ​, Selasa ​(6/3) kemarin, dari meja kerja WR (Kasubdit Pemeliharaan Nasional) BPN Kota Semarang ditemukan uang sejumlah Rp 32.400.000,00. Saat itu pula diamankan empat orang pegawai BPN Kota Semarang berinisial S, WR, J dan WF. “Pada pengembangannya, Tim yang dipimpin oleh Waluyo (Kasubagbin) dan Adi (Kasi Pidsus), kembali melakukan penggeledahan. Ditemukan sejumlah uang. Perkiraan paling tidak Rp 600 juta. Ini masih dihitung petugas bank menggunakan mesin penghitung uang milik salah satu bank pemerintah daerah,” lanjut Dwi Samudji.
​​

ADA NAMA PEMBERI

Hingga hari ini, telah ditemukan 125 amplop berisi uang kisaran Rp 2 juta hingga Rp 14 juta rupiah. “Di amplop-amplop tersebut tertulis nama-nama pihak yag menyerahkan uang. Salah satunya berinisial M,” urai Kajari.
Guna penanganan lanjut kasus ini, pihak penyidik akan mendata  darimana saja uang-uang tersebut. Dwi menambahkan, saat ini Tim Pemyidik telah menetapkan satu orang tersangka, yaitu WR.
“Saya meminta kepada Tim Penyidik supaya mendalami dan mengembangkan siapa pun yang terlibat. Bila cukup bukti, silakan ditetapkan menjadi tersangka,” tegas Dwi.
Terkait jumlah uang yang dalam amplop-amplop yang disita,  penyidik masih mendalami terkait dengan ​besaran ​tarif uang tersebut.
Penggeledahan dilakukan di tiga tempat, yaitu  tempat tinggal WR daerah Ngaliyan, kantor dan di mobil tersangka. “ Dari dalam mobil tersangka ditemukan sejumlah uang Rp 51juta lebih, di rumah kurang lebih Rp 498juta serta di dalam tas di kantor sejumlah Rp 35,9 juta lebih. Saat menggeledah rumah WR di Ngaliyan ​itu juga ditemukan BB gelang emas dalam tumpukan uang.​”​
Mulai besok ​penyidik akan memanggil saksi-saksi. Kami harapkan para saksi datang guna mempercepat proses penyelesaian kasus ini.Saksi besok sudah mulai dipanggil. Tersangka kami jerat dengan Pasa 12e dengan ancaman hukuman penjara minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun dan pasal11 UU No 20 Tahun 2001 tentang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).”
Pasal 12 e itu berbunyi, pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau oang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar atau menerima pembayaran dengan potongan atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.
Bunyi Pasal 11 UU Tipikor adalahDipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.
DITAHAN
Penyidik Kejari Semarang ​kemudian menahan WR, tersangka OTT di Kantor BPN Kota Semarang. “Total barang bukti uang yang ditemukan setelah dihitung oleh penyidik dan  petugas bakn, total mencapai Rp 598.650.000,00. Ditambah satu buah gelang emas yamg beratnya belum bisa dihitung.
“Gelang emas te​r​sebut m​enurut pengakuan tersangka dibeli pada bulan Oktober. Uangnya dari hasil pungli,” kata Dwi Samudji.
Kejahatan yang diselidiki oleh Kejari Semarang adalah re​ntang waktu dari ​bulan September 2017 hingga tanggal 5 Maret 2018 saat OTT.marnie​-MP1

Leave a Comment