Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Thursday, Nov 23rd

Last update09:00:37 AM GMT

You are here

 

Kasus Mayat Digulung Sprei. Tersangka Dipaksa Mengaku

SEMARANG - Proses penyidikan yang diduga tidak benar, dengan memaksa pelaku mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan, dialami oleh Supardi, 22, seorang penjaga rumah kost.

Supardi diajukan ke meja hijau dengan dakwaan sebagai salah satu pelaku perampokan dan pembunuhan terhadap dr Nanik Trimulyani Arifin, SpKFR (72) seorang dokter spesialis jantung yang juga menjadi dosen tamu di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Hal itu terungkap dalam pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Dalam pengakuan di persidangan Supardi mengaku ditembak kakinya, kemudian dipaksa penyidik untuk mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya.

“Saya disuruh mengaku oleh polisi, padahal saya tidak melakukan pembunuhan,tapi kaki saya ditembak pas diperiksa dipolsek, kemudian dipaksa mengaku, akhirnya saya ngaku saja,” kata Supardi saat diperiksa dihadapan majelis hakim yang dipimpin,  Edy Suwanto.

Namun demikian, ia mengaku turut membantu Suparman (masuk Daftar Pencarian Orang) terkait pencurian sejumlah barang yang dimiliki korban. Hanya saja itu dilakukan sejak korban masih pergi berlibur. Ia mengaku menjaga kos tersebut digaji sebesar Rp 1,7 juta setiap bulan, dengan tugas membersihkan kos dan membuka pintu saat mobil anak kos masuk. Ia juga mengaku Suparman satu daerah dengan dirinya asal Wonosobo.

“Niat kami cuma mengambil TV, uang dan perhiasan. Saya ambil sedikit demi sedikit, waktu itu Parman ngancam saya pakai parang dan dia mabuk, kemudian mengajak mencuri,” kata Supardi.

Ia juga mengaku, Suparman bisa masuk ke kamar korban karena ia yang menunjukkan. Mereka kemudian mencongkel jendela  memakai obeng. Ia mengaku hanya bertugas di parkiran untuk melihat apakah ada orang atau tidak.
“Waktu itu anak-anak kos tidak ada, pada pulang. Pertama Parman keluar bawa uang dan perhiasan, awalnya lewat dapur. Saya dikasih Rp 1juta sama Parman,” katanya.

Untuk pencurian kedua, lanjut Supardi, Suparman masuk melalui lubang angin mengambil TV dan uang, ia sendiri hanya diberi bagian Rp 500ribu. Selain itu, ia mengaku, sebelum korban pulang rekaman CCTV terlebih dahulu dipotong.

Terkait pembunuhan itu ia menyebutkan, pelakunya adalah Suparman. Ia juga mengatakan, bahwa mayat korban dibungkus menggunakan seprei, kemudian ditaruh d idalam bagasi dilakukan sendiri oleh Suparman.

“Korban digulung pakai seprei dan digotong parman sendirian ke dalam mobil. Posisi mayat ditaruh  bagasi, mobil langsung di bawa ke Wonosobo, yang nyetir Parman, yang buang mayatnya juga dia, mayatnya dibuang ke selokan di daerah Banjarnegara,” sebutnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Indah Laila menjerat Supardi dengan primair Pasal 339 ke-1 KUHP dan subsidair Pasal 365 ayat 3 KUHP. Menurut JPU, atas perbuatan terdakwa korban mengalami kerugian mencapai Rp 150 juta.marnie-MP1

Add comment


Security code
Refresh