Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Friday, Nov 24th

Last update09:00:37 AM GMT

You are here

 

Makanan Tradisional Yang Dikalengkan

Surel Cetak PDF

JOGJA - Tempe merupakan makanan khas Indonesia terbuat dari kedelai dan berharga murah. Tempe bisa diolah untuk lauk pauk hingga menjadi camilan yang lezat. Jangan menyepelekan makanan murah ini, karena kandungan gizinya sangat tinggi. Bahkan bisa dibilang tempe sangat baik untuk sumber protein nabati, dibanding protein hewani seperti daging sapi dan sebagainya.

Menurut penelitian, kandungan protein tempe lebih tinggi dibanding protein dari hewani. Penelitian terbaru pun menyebutkan kandungan gizi tempe ini sama dengan kandungan gizi dari yoghurt, yang terbuat dari susu fermentasi.

Berangkat dari kepedulian tentang makanan sehat dan bergizi itu, Umiyakko Java Food memproduksi tempe kaleng siap saji.

“Tempe merupakan makanan favorit sejak leluhur-leluhur kita. Selain harga murah dan rasanya yang lezat, tempe juga mengandung banyak manfaat. Umiyakko ingin menjadikan tempe makanan yang mendunia,” kata Hj Eko Suwarni, salah satu owner kepada wartawan saat mengikuti Pameran LIPI di Taman Pintar Yogyakarta yang dilaksanakan 8-9 September.

Untuk bahan baku, Eko mengatakan, perusahaannya mengambil dari para petani lokal di daerah Wonosari, Gunungkidul. Untuk proses pengalengan dilakukan dengan tekhnologi tinggi yang mendapat pendampingan dari ahli-ahli LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

“Proses penelitiannya tidak singkat, memakan waktu hingga empat tahun untuk menemukan formula yang tepat dalam proses pengalengan tempe ini,” terang Eko.

Lebih lanjut, wanita yang juga bertugas menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Maros, Sulawesi Selatan ini mengungkapkan bahwa, pengalamannya saat menunaikan ibadah Haji tahun 2015 lalu, menjadi momen memantabkan usaha pengalengan tempe ini.

“Saya merasakan sendiri, waktu di tanah suci, jamaah dari Indonesia, kesulitan mencari tempe. Kalaupun ada, harganya sangat mahal dan tidak sesuai selera mereka. Karena itulah, saya kemudian memiliki ide, untuk memproduksinya. Ada dua varian rasa yang kami produksi, original dan tempe bacem,” jelas Eko.


TAHAN 14 BULAN
Peneliti pangan dari LIPI, Ir Mukhammad Angwar, MSc kepada wartawan mengungkapkan, selain tempe LIPI juga melakukan penelitian makanan yang berbasis umbi-umbian dan sereal. “Kami melakukan penelitian dengan tujuan menaikan nilai tambah berupa panganan bergizi, padat kalori, aman, sehat dan memiliki unsur simpan panjang,” jelas Anwar.

Untuk tempe, Anwar menjelaskan bahwa hasil produksi tempe kaleng memiliki fungsi fungsional makanan serta tanpa pengawet. Proses pengalengannya diteliti berdasarkan, pertama, sistem secara fisika seperti pengeringan, sterilasasi dan pengemasan yang rapat sempurna (hermatis). Kedua, secara biologi dengan cara permentasi.

“Mengapa memilih tempe? Karena tempe adalah makanan tradisional yang mudah dicerna, bergizi dan memiliki sifat fungsional. Tempe kaleng ini dapat disimpan selama 14 bulan dengan suhu kamar yang sehat dan aman,” jelas peneliti senior tersebut.

Tidak semua produsen menyadari pentingnya  memiliki tanggung jawab tentang kesehatan makanan. Produsen pengolahan makanan, seharusnya memiliki karakter  hanya menyajikan makanan untuk keluarga. Sehingga ketika konsumen dianggap keluarga, maka hanya makanan bermutu, sehat dan bergizi saja yang disajikan. Tidak hanya berbasis profit.

“Untuk tempe kaleng, hanya diproduksi oleh Umiyakko Java Food dengan brand Umiyakko. Selama proses produksi didampingi oleh LIPI. Kami sudah menyusun draft untuk dipatenkan. Insya Alloh, akhir tahun ini sudah bisa memiliki hak paten,” pungkas Anwar.marnie-MP1

Add comment


Security code
Refresh