Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

Kasus 'Pailit' Karena Piutang Casis Miliaran Rupiah Bergulir

Surel Cetak PDF

SEMARANG - Perkara yang menjerat dua bos besar asal Grobogan yakni, Setiyono Raharjo selaku bos CV Lancar Motor (showroom motor bekas) dan Tjan Wen Hung selaku bos CV Zentrum (sekarang sudah pailit dan berganti nama Zentrum MK), ditambah satu lagi EC. Erny Novita dari bos PT Citra Mandiri Multi Finance Semarang, mulai terkuak bahwa masih ada hutang dari terdakwa Tjan Wen Hung mencapai Rp 22 miliar ke korban PT Hartono Raya Motor Semarang, hal itu terungkap dalam sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Senin (5/6).

Dalam kasus tersebut, ketiganya dijerat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng atas perkara perbuatan memalsukan, mengubah, menghilangkan atau dengan cara apapun memberikan keterangan menyesatkan dalam melahirkan perjanjian jaminan fidusia , yang dilakukan di PT Citra Mandiri Multi Finance Semarang.

Adapun saksi yang diperiksa dalam sidang kedua tersebut sebanyak empat saksi, namun karena majelis hakim aka nada agenda 13 jadwal sidang, maka hanya berhasil memeriksa 2 saksi, majelis hakim juga memastikan minggu selanjutnya akan meneruskan saksi-saksi lain, akan tetapi keempatnya sudah disumpah di persidangan.

Keempat saksi tersebut adalah, Kris Purwanto dan Yuniati Kwik selaku Marketing dan Finance dari PT Hartono Raya Motor Semarang, kemudian saksi Median HM dari karyawan PT Citra Mandiri Multi Finance Semarang serta seorang saksi lagi Indrajaya selaku Notaris.



“Karena hari ini ada 13 perkara ditangani, maka saksi yang diperiksa 2 dulu saja, minggu depan dibuat seminggu 2 kali yakni, Senin dan Kamis,”kata majelis hakim sebelum menutup sidang.

Saat dicecar pertanyaan, saksi Kris Purwanto pertama kali terdakwa Tjan Wen Hung membeli 5 casis atau mesin bus merk Mercedez Benz, dengan harga per unit mencapai Rp 665 juta, dengan total pembelian mencapai 70 casis, bahkan dalam pembelian tersebut ada perjanjian melalui SPK (surat pemesanan kendaraan) yang buat saksi dan ditandatangani saksi maupun atasannya dan terdakwa Tjan Wen Hung.

“Terdakwa Tjan Wen Hung jadi customer mulai Mei 2012, total beli 70 unit casis bus itu beli sampai Juli 2013, tapi pembeliannya bertahap, bayarnya juga bertahap. Memang awal pembayaran lancar, mulai ndak lancar Juli 2013,”kata saksi Kris Purwanto.

Saksi juga mengaku terdakwa Tjan Wen Hung pernah datang ke kantornya yang menyatakan meminta pembayarannya ditunda sebulan, karena akan dibayar Agustus. Kemudian dibulan Agustus ternyata juga tidak melakukan pembayaran, begitu seterusnya, tiba-tiba saat saksi datang ke kantor CV Zentrum di Purwodadi ada kertas pengumuman pailit.

“Saya melihat ada pengumuman putusan pailit, waktu itu langsung diminta berhubungan dengan kurator, kuratornya Endang Sri Karti, padahal kekurangan hutang masih sekitar Rp 32 miliar,”sebutnya.

Kemudian setelah saksi bertemu dengan kuratornya Endang, ternyata juga diakui ada piutang tersebut, kemudian kurator meminta catatan, dari 70 unit casis bus mana yang tidak mengeluarkan covernute dan kwitansi, yang diketahui ada 13 unit casis bus.

“Kemudian 13 casis bus tersebut dikembalikan ke kami, dan sudah disampaikan dalam sidang bersama seluruh debitur, ada surat resminya juga, bagaimanapun karena sudah dikembalikan mengurangi piutang terdakwa Tjan terhitung tinggal Rp 22miliar,”ungkapnya.

Saksi Kris kembali menerangkan, karena casis bus sudah dikembalikan ke perusahaanya, kemudian casis tersebut 4 diantaranya dijual yakni, 2 casis ke PT Expres Kencana Kelola Jayajasa, 1 casis ke PT Akas Asri dan 1 casis lagi ke PT Nadia Kencana.

“Penyerahan 13 casis tersebut memang tidak diketahui terdakwa, karena sudah langsung ditangani kurator. Tapi 2015 lalu saat 4 casis yang sudah terjual tersebut menjadi masalah, kami diberitahu kalau unit tersebut di sita Pengadilan Negeri (PN) atas perintah PT Citra Mandiri Multi Finance,”katanya.

Ternyata, lanjut Kris, 4 unit casis bus tersebut sudah di leasingkan oleh terdakwa Tjan melalui terdakwa Setiyono Raharjo dari Lancar Motor. Akibat permasalahan itu, PT Expres Kencana Kelola Jayajasa menggugat perusahaanya.

“Untuk 4 casis bus yang bermasalah, saya yang bertindak sebagai salesnya, tapi yang mengeluarkan SPK dari cabang Jakarta dan Surabaya,”ungkapnya.

Sementara itu, saksi Yuniati Kwik menyampaikan, kalau nilai hutang dari terdakwa Tjan semua sudah tercatat dalam pembukuannya. Bahkan ia mengaku dari 70 casis bus semua belum ada yang lunas, jumlah 70 units casis tersebut diakui saksi terdiri dari 10 SPK.

“SPK itu ada yang 4, 5 dan 10. Tapi semua dibayar pakai BG (bilyet giro), yang di leasingkan terdakwa Tjan pastinya saya tidak tahu, yang jelas 4 casis itu bukan, mengenai leasing dari PT Citra Mandiri Multi Finance saya juga ndak paham, tapi setahu saya leasingnya sama BCA,”imbuh saksi Yuniati.

Saksi Yuniati menyebutkan, total harga 70 casis bus tersebut mencapai Rp 49,8 Miliar, namun dari cicilan yang sudah terbayar Rp 16,1miliar, sisanya berkisar Rp 32,9 miliar. Ia juga menyampaikan mengenai apakah dibuat fidusia dikatakannya tidak pernah ada.

“Pada saat saya merekap semua antara uang masuk dan piutang totalnya mencapai Rp 32 miliaran,”ujarnya.marnie-MP1

 

Add comment


Security code
Refresh