Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

Menjadi Jaksa Gara-gara Copet

Surel Cetak PDF

Dr (HC) Bambang Setyo Wahyudi, SH, MM, Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara :

Sosok sederhana, santun dan apa adanya begitu kesan pertama ketika berbincang dengan pria berkumis ini. Dialah Dr (HC) Bambang Setyo Wahyudi, SH, MM, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM Datun) Kejaksaan RI. Kesederhanaannya bukan hanya simbolis dan pencitraan, tapi diwujudkannya dalam kesehariannya. Dirinya bahkan tak mau ‘merepotkan’ ajudannya untuk mengawal hingga ke rumah pribadinya. Bambang hanya mau didampingi sang ajudan ketika jam kerja, setelah itu dia hanya ingin menjadi orang biasa tanpa aturan protokoler.

Apalah artinya sebuah nama dan jabatan jika tidak ada kerja nyata, demikian prinsip hidupnya. Ketenaran bukanlah hal yang utama, prestasi biarlah dinilai orang lain, bukan diri sendiri. Dengan pedoman sederhana itu pula, Jaksa yang beberapa waktu lalu memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini, enjoy melakoni perjalanan hidupnya,

“Sebisa mungkin saya menghindari popularitas, apalah artinya ketenaran dan nama besar tapi tanpa kerja nyata?” katanya.

Dalam menjalani karirnya, Bambang mengaku pernah dua kali menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya, yaitu menjadi Kajari Mojokerto dan Kajari Jakarta Pusat. Jabatan yang dikejar banyak orang, namun bagi pria kelahiran Desa Mekikis, Purwoasri, Kediri ini tidak membuatnya tertarik.

“Saat itu saya hanya ingin menjadi seorang ‘mentor’ di Pusdiklat Kejaksaan. Saya ini mengibaratkan diri senang memotret dan menganalisa keadaan. Saya bukan ‘pelukis’ tapi tukang potret keadaan. Namanya tukang potret, apa yang ditangkap kamera pasti keadaan riil, bukan buatan,” ungkapnya dengan bahasa filosofi.

Cita-cita awalnya menjadi seorang Jaksa, hanya ingin menjadi pendidik bagi calon Jaksa. Jika kini ia dipercaya menjadi salah satu Jaksa Agung Muda, itu merupakan bonus dari Alloh SWT untuk dirinya. “Jabatan yang sekarang saya emban, sudah melebihi cita-cita saya. Jadi harus bisa saya laksanakan dengan baik amanah ini,” tegas mantan Sesjamdatun ini.

GARA-GARA COPET

Cita-cita awal Bambang kecil adalah menjadi seorang tentara seperti sang ayah. “Namun kala itu ayah saya mengatakan, jangan jadi tentara, cukup Bapak saja yang jadi tentara. Kamu jadilah dirimu sendiri. Artinya, saya tak harus meniru jejak Bapak dengan menjadi tentara, tetapi harus berani mengambil karir lain,” ceritanya.

Mengenang masa kecilnya, Jaksa kelahiran 26 Agustus 1957 ini bercerita, suatu waktu ketika dirinya masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar (SD), diajak ibunya ke pasar yang terletak di Kertosono, Kediri, Jawa Timur. Saat itu Bambang melihat seorang pencopet yang dihakimi massa karena aksi jahatnya ketahuan. Peristiwa tersebut sangat membekas di hatinya, kemudian muncul berbagai pertanyaan di benaknya, kenapa harus dipukuli, kenapa tidak ada tindakan lain, kenapa hukumannya seperti itu? Dalam pikirannya, Bambang merasa amat kasihan, karena pencopet tersebut benar-benar mencari makan.

“Kejadian hari itu, benar-benar membekas di hati saya. Pada saat itu, saya sempat bertanya kepada ibu, kenapa pencopet harus dipukuli. Ibu saya hanya menjawab bahwa orang tersebut jahat,” kenang pria yang pernah menjabat sebagai Kajati Sumatera Utara ini. Tentu jawaban sang ibunda tidak memuaskannya.

Hingga seusai menamatkan sekolahnya di SMA 2 Yogyakarta, Bambang pun bertekad melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum. Tetapi, oleh kedua orang tuanya, dia malah dikuliahkan di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Tentu saja hal itu bertentangan dengan hati kecilnya, alhasil Bambang menjadi mahasiswa IKIP tersebut hanya tiga minggu.

Kemudian, Bambang mendengar bahwa Presiden Soeharto (presiden waktu itu), membuka sebuah kampus baru di Solo dengan nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS). Bambang pun segera mendaftar ke Fakultas Hukum UNS yang akhirnya diterima dan mulai kuliah tahun 1977.

Saat studi Sarjana Muda ia mengambil judul skripsi ‘Perubahan Surat Tuduhan’. Saat itu, dirinya tak tahu jika skripsinya tersebut adalah dakwaan dari seorang JPU ketika menjerat penjahat. Sedangkan untuk skripsi sarjana penuhnya, dirinya mengambil jurusan perdata dengan judul skripsi ‘Hak Absentee di Kabupaten Karanganyar.’

“Akhirnya saya tahu kalau Surat Tuduhan itu adalah Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Akhirnya saya memutuskan menjadi seorang penegak hukum,” kata pria penggemar jajanan angkringan ini. Keputusannya tersebut juga dipengaruhi oleh kenangan masa kecilnya ketika melihat ada copet dimassa, dirinya tak ingin aksi massa menjadi hukuman bagi pelaku kejahatan, tetapi harus diproses sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku.

MENJADI JAKSA

Setelah menamatkan kuliahnya, Bambang disarankan oleh seorang kerabatnya untuk bekerja di proyek pembangunan Bengawan Solo. “Saya ikuti. Tapi jelas saya menolak. Saya ini Sarjana Hukum, bukan teknik,” ujarnya.

Karena tak ingin bekerja di proyek, ia kemudian memutuskan mengadu nasib ke Jakrta bersama sahabatnya, Prasetyo Martoyo Putro atau akrab dipanggil Pengky. Berdua mereka naik bus menuju ibu kota untuk mencari pekerjaan. Sesampai di Jakarta, mereka melamar di Departemen Kehakiman, namun ternyata tak ada lowongan.

Mereka pun berputar-putar Jakarta tanpa tujuan jelas, hingga akhirnya sampai di kawasan Blok M dan bertemu dengan seorang teman bernama Suci. “Dari Suci, kami tahu kalau Kejaksaan Agung membuka lowongan kerja. Kami pun memasukan lamaran kerja. Tes gelombang pertama, saya lolos, tapi Pengky tidak. Akhirnya dia lolos saat tes gelombang kedua,” katanya.

Maka di tahun 1985, Bambang resmi bekerja di Kejaksaan RI dengan penempatan pertama sebagai staf TU Penyidikan, Kejaksaan Agung RI. Dari posisi itulah, karir Bambang semakin naik hingga saat ini menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM Datun) Kejaksaan RI.


MENYAMAR JADI TUKANG PARKIR

Banyak pengalaman yang dialami Bambang sebagai seorang Jaksa. Bambang menceritakan, bahwa memilih untuk menangani perkara pidana khusus. Kebetulan saat itu sedang gencar-gencarnya penanganan kasus korupsi.

“Pertama kerja, saya diberi berkas tebal sekali untuk dipelajari. Saya ingat nama tersangkanya, Wong Cancun. Tapi saya belum bisa memahami berkas itu dengan baik. Maka saya diminta atasan untuk langsung terjun ke lapangan mengamati tersangka,” jelasnya.

Dari sinilah pengalaman unik dialami oleh Bambang. Menurutnya, saat diperintahkan untuk melakukan pengamatan langsung di dekat rumah tersangka di bilangan Pasar Senen, Bambang menyamar menjadi tukang parkir.

Saat menyamar, Bambang berseteru dengan tukang parkir asli. “Waktu menyamar, saya sendirian, sempat dikejar-kejar tukang parkir yang asli karena disangka merebut lahannya,” katanya. Bambang pun berkomunikasi dengan tukang parkir asli dan harus rela memberikan uang receh miliknya. “Uang receh itu saya berikan kepada tukang parkir di sana, lalu saya bebas melakukan pengamatan selama tiga minggu,” kisahnya.

Pengalaman menarik lainnya terjadi pada tahun 1988, saat menjadi jaksa fungsional pada Kejaksaan Negeri Jakarta Utara. Bambang ditugaskan untuk mengusut kasus penyelundupan di Pelabuhan Tanjung Priok. Waktu itu, Kejaksaan masih punya wewenang untuk menangkap penyelundup.

Saat melakukan pengusutan kasus tersebut, ia pernah diberi uang suap oleh penyelundup, tentu saja langsung dengan tegas ditolaknya. Bambang berkeras untuk tetap menyegel gudang ,milik penyelundup tersebut. “Kemudian pelaku menghubungi bekingnya, yang ternyata seorang oknum Marinir. Saya diancam dengan senjata api, kalau tetap menyegel gudang itu, saya diancam akan ditembak,” katanya.

“Namun saya tetap nekat, karena saya punya surat perintah. Saat itu saya juga ingat pesan ayah saya, kalau berhadapan dengan tentara, tanya satuan dan apa pangkatnya, pasti akan mikir nanti,” tuturnya. Akhirnya Bambang sukses melakukan penyegelan gudang milik penyelundup itu.

Bambang ingin mendorong fungsi Kejaksaan tidak hanya mengedepankan represif, tetapi lebih mengedepankan upaya preventif bagi tindak pidana korupsi. “Kita ingin melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap lembaga-lembaga negara yang terkait dengan pengamanan harta kekayaan negara, sesuai prosedur hukum perdata dan tata usaha negara. Tujuannya agar tidak terjadi penyimpangan yang bisa merugikan negara,” ujar Bambang yang mengaku belajar banyak dari mantan Ketua KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean ini.


Tahun 2017 ini dirinya akan memasuki masa pensiunnya, harapan terbesar pada dirinya adalah keinginan untuk meninggalkan sumbangsih pikiran yang berguna bagi Indonesia. “Saya tak rela bangsa ini dipandang sebelah mata pihak lain, apalagi dilecehkan. ‘Punggung-punggung gelap’ (rakyat-red) itu yang menjadi tujuan kinerja dan tugas saya, bukan ‘mobil-mobil gilap’.”marnie/franky/js-MP1.

REKAM JEJAK

Bambang Setyo Wahyudi lahir pada tanggal 26 Agustus 1957 di Kediri, saat ini menjabat sebagai Jaksa Agung MUda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung RI. Memulai karir di Kejaksaan sejak tahun 1985 dan diangkat menjadi Jaksa tahun 1988. Dalam perjalanan karirnya, Bambang pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Barabai, Inspektur Kepbang III pada Jamwas Kejaksaan Agung.

Kemudian menjadi Kasubdit TP Khusus dan Lainnya pada Jampidsus Kejaksaan Agung, Kepala Kejaksaan Negeri Bojonegoro, Asisten Pengawasan Kejati Jawa Barat, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Direktur Perdata pada Jamdatun Kejaksaan Agung. Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Sekretaris Jamdatun terakhir menjadi Jamdatun Kejaksaan Agung RI.

Telah menempuh pendidikan Strata 1 (S1) Hukum dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) IPWI dan Pendidikan informal Business Laws of Australia The University of Melbourne.

 

Add comment


Security code
Refresh