Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

‘Jangan Melihat Orangnya, Tapi Lihat Siapa Yang Menciptakan’

Air matanya menetes tanpa dirasa, meski senyum terus mengembang di wajahnya manakala tangannya membelai anak perempuan penderita cacat ganda yang tak bisa menikmati masa kanak-kanaknya sejak dilahirkan.  Bunda Dewi demikian perempuan ini biasa dipanggil, menyambangi anak-anak di Panti Asuhan Cacat Ganda ‘Bhakti Asih’  Semarang usai menggelar acara diskusi Cap Go Meh bertajuk "Cinta Menembus Batas: Melayani Tanpa Pamrih, Harmoni dalam Perbedaan," di Semarang Town Square (Setos), Senin (22/2) kemarin.

“Cinta yang menembus batas bukan hanya untuk mereka yang terlahir normal, namun anak-anak ini juga memiliki hak yang sama untuk dicintai dan mendapat perhatian. Sungguh saya merasa belum sebanding dengan perawat yang setiap hari mengasihi mereka. Pelayanan mereka sungguh luarbiasa,” ujar Bunda Dewi yang selama ini dikenal sebagai Bunda Perlindungan Anak Jawa Tengah.

Sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah, dirinya bertekad bisa menggerakkan seluruh elemen PSMTI Jawa Tengah dalam wujud nyata.

“Karena wujud kasih kepedulian itu adalah dengan melakukan tindakan.”

Selain Panti Asuhan Cacat Ganda  ‘Bhakti Asih’, PSMTI Jateng dalam kesempatan ini juga memberikan bantuan dan tali asih kepada empat panti asuhan lainnya, yakni panti asuhan Ikhlasul Amal 2 Ketileng, panti asuhan Miftahul Khoirot Pucanggading, panti asuhan Al Ihsan Kebon Batur, dan panti asuhan Ahbabul Mustofa Sumberejo Mranggen.

Menyitir kata bijak seorang kyai yang dikenalnya, Dewi meminta siapapun untuk mengubah cara pandang terhadap orang-orang kurang beruntung dalam kehidupan, khususnya anak-anak untuk jangan melihat orangnya. “Tapi lihatlah siapa yang menciptakan orang ini yang tak lain dan tak bukan adalah Tuhan Allah.”

CINTA MENEMBUS BATAS

Beragamnya suku budaya etnis juga umat beragama membuat banyak perbedaan yang harus disikapi dengan arif oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dalam diskusi

'Cinta Menembus Batas: Melayani Tanpa Pamrih, Harmoni dalam Perbedaan' terungkap bahwa pemahaman agama dewasa ini terkadang sering salah kaprah.

Acara yang digagas PSMTI Jateng itu, Dewi menegaskan, Tuhan menciptakan manusia itu sama dan utuh sebagai ciptaan-Nya, kendati berbeda-beda suku, etnis, warna kulit, dan agama, serta keyakinannya. Dewi juga meminta agar jangan ada lagi diskriminasi etnis dan konflik atas nama SARA di negeri ini.

Dalam diskusi menyambut Cap Go Meh ini menekankan tentang toleransi dan pluralisme itu, selain Dewi, hadir pula Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, Ketua Tanfidziah PWNU Jateng Abu Hapsin Umar Ph.D, dan budayawan Prie GS.

Dewi yang notabene lahir dan besar di Indonesia ini masih sering merasa bahwa dikotomi dalam masyarakat masih cukup tinggi. Beberapa kali dirinya mengalami kenyataan lebih sering disebut Cina daripada Indonesia.

"Mama, saya tak mau dipanggil sepert itu. Saya ini juga Indonesia, sama seperti mereka," demikian testimoni pengalaman masa kecil yang disampaikannya dihadapan sekitar 150 peserta diskusi yang dating dari berbagai elemen masyarakat.

Dewi menyatakan dirinya saat itu protes kepada sang mama dan tidak terima dengan sebutan teman-temannya yang dinilainya "provokatif" dan tidak bersahabat.

"Saya ini sangat Indonesia, sama seperti teman-teman saya. Yang membedakan cuma mata dan warna kulit saja, selebihnya darah saya merah putih," tutur Dewi.

Ketua PSMTI Jateng Dewi Susilo Budihardjo mengungkapkan, begitu banyak marga Tiong Hoa yang ada di Indonesia dan khususnya di Semarang. Namun dari banyak perbedaan itu, organisasi PSMTI ingin menyatukannya dan bisa memberikan sumbangsih tanpa ada sekat-sekat yang seringkali muncul. ''Kita suku Tiong Hoa tapi kita sangat Indonesia. Kita ingin terus melayani tanpa pamrih siapapun juga tanpa memandang suku agama atau budaya.”

Dr Abu Hapsin Umar, Ph.D mengungkapkan, umat beragama kini seringkali lebih menekankan pada aspek yang bersifat simbolik saja. Padahal ada aspek substantif yang jauh lebih penting daripada sekadar simbol-simbol agama. Cinta menembus batas menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng ini harus dimulai dari dialog-dialog tidak hanya yang bersifat akademik tetapi juga dialog praktis.

''Tidak usah bertanya apa keyakinan agamamu atau ideologi tapi bagaimana pengalaman religiusitas dalam membangun kemanusiaan. Bisa saja misalnya dengan jalan sehat lintas agama, lintas iman atau etnis dalam bentuk dialog praktis,'' ujar Abu

Abu Hapsin Umar yang juga Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng  menyatakan, seseorang tak bisa menyelesaikan persoalan orang lain jika belum bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Untuk itu, dia tak setuju agama lebih dipahami secara simbolik. Menurutnya, ajaran agama harus dipahami secara substansi, bukan simbolik.

"Banyak orang berkonflik karena rebutan simbol. Kita bisa hidup damai berdampingan, tanpa konflik, jika sama-sama saling memahami agama secara substansi," ujarnya.

Sementara itu Romo Aloysius Budi Purnomo mengatakan, makna konkret cinta menembus batas itu melalui perjumpaan dan relasi yang hangat antarpemeluk agama atau etnis yang berbeda.

"Sebagai pastor, saya menjalin relasi yang hangat dengan tokoh umat agama lain, seperti Gus Mus, Habib Luhfi, Kiai Mahfud Ridwan. Saya juga biasa cipika cipiki dengan mereka, saling ucapkan selamat hari raya. Datang ke masjid, menghadiri pengajian. Itu tak membuat kekatolikan atau kepastoran saya menipis atau luntur, demikian pula sebaliknya," ujar Romo Budhenk, panggilan akrabnya.

PEMBAURAN YANG SEMPURNA

Cinta menembus batas, kata Romo yang juga Ketua Komisi Hubungan Antara Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang, bisa diwujudkan dengan membangun persahabatan dengan orang yang tak setuju dengan Anda. Buat komitmen hidup. Belajar memaafkan mereka yang menyakiti. Pendidikan melek agama lain. Mengenal pihak lain dengan cinta. Terus merawat persaudaraan sejati, dan menjaga keutuhan semesta.

Abu Hapsin Umar menambahkan, cinta itu universal. Setiap agama mendidik umatnya untuk saling mencintai sesamanya. Islam selalu memulai dengan dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bismilah hirohman hirohim. Itu artinya, pemeluk Islam diminta mengedepankan cinta dan kasih sayang.

"Ketika Tuhan meminta kita berakhlak seperti Tuhan itu wajar. Dalam teologi Kristiani, manusia diciptakan dari citra Tuhan. Maka, cinta menembus batas apa pun. Itu perbuatan mulia, yang diminta oleh Tuhan," ujarnya.

Dikatakan, mewujudkan cinta kepada sesama itu, dapat melalui dialog, baik dialog aksi maupun dialog akademik. Dialog akademik bersifat elitis, tapi juga harus dilakukan. Dialog aksi yang lebih membumi. Dialog akademik bertukar pengalaman. Bagaimana pengalaman sebagai orang Katolik, Islam, dan lain-lain.

"Untuk menembus kekakuan dan batas agama atau etnis, dialog aksi perlu digelorakan. Misalnya digelar jalan atau kumpul bareng, sepeda bareng dan lain-lain," ujarnya.

Dewi setuju jika menolong dan melayani sesama itu tanpa melihat agama dan keyakinan orang yang ditolong atau dilayani. Senada dengan itu, Romo Budhenk mengatakan, mengangkat martabat manusia dengan cinta, apa pun agama atau etnisnya pasti akan terwujud. Itu harus dilakukan dalam semangat inklusivitas, inovatif, dan transformatif.

Senada dengan itu, Romo Budhenk mengajak semua pihak mencari titik-titik temu dalam perbedaan. Budayawan Prie GS menyatakan, saat ini budaya mencintai itu semakin rendah. "Cinta itu harus diungkapkan, harus dideklarasikan. Jangan cuma diam, tapi harus dibuktikan," tegasnya.

Abu Hapsin menambahkan pula, nilai-nilai toleransi pembauran harus ditanamkan pada semua orang. Jadilah Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, serta etnis Tionghoa dan lainnya yang meng-Indonesia. "Pembauran tak akan pernah sempurna jika masih ada batas dan sekat agama atau etnis. Jadlah Islam yang Jawani. Jadilah Katolik yang Indonesia. Jadilah Tionghoa yang Indonesia. Bagaimana menginternalkan nilai-nilai agama itu. Melokalkan nilai-nilai agama yang universal. Tanpa internalisasi nilai-nilai itu, keharmonisan hidup tak bisa terwujud," ujarnya.

Romo Aloys menekankan bahwa dengan saling mendoakan meski berbeda agama itu juga bisa meneguhkan iman. “Cara seperti ini sudah sering kami lakukan tidak hanya label diskusi atau teori tetapi juga lintas agama.''

franky-MP1

Add comment


Security code
Refresh