Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Thursday, Nov 23rd

Last update11:58:11 AM GMT

You are here

 

Jamwas : 'Katabelece Itu Hanya Fitnah'

Surel Cetak PDF

MAJALAH-PROSEKUTOR.COM, Jakarta : Jaksa Agung Muda Pengawasan, Prof Widyo Pramono, Kamis pagi (18/2) telah menghadiri undangan resmi dari Dewan Etik Hakim Konstitusi di Gedung Mahkamah Konstitusi di Medan Merdeka Barat Jakarta.

Sumber PROSEKUTOR di gedung tersebut, mendapat informasi bahwa mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) ini menyatakan tidak pernah menerima surat yang ditenggarai berasal dari Prof. Arief Hidayat yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi RI.

Di depan Ketua Dewan Etik, Prof. Abdul Mukhti Fadjar yang didampingi dua Anggota  Majelis, Widyo Pramono tidak menampik, ada hubungan kedekatan dengan Arief, karena sekitar tahun 2010 - 2011 keduanya sama-sama berada di  Semarang, Jawa Tengah.

Saat itu Widyo menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, sementara Arief Hidayat adalah Dekan  dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.

"Sebagai Kajati, saya saat itu seringkali mengundang Prof Arief  untuk berbicara dengan jajaran Jaksa se-Jawa Tengah, guna memberikan masukan dalam penegakan hukum khususnya tindak pidana korupsi ataupun permasalahan kekinian masalah sosial dan hukum yang hidup dan tenggelam di masyarakat kita," terang Widyo.

Ditambahkannya, kedua anak Arief juga menjadi mahasiswa saya di Pascasarjana pada Fak Hukum Universitas  Sebelas Maret Surakarta. "Kami berdua ketika itu acapkali ketemu dalam Seminar, dialog interaktif di TVRI Regional Jateng, undangan pernikahan, sering juga berjumpa di toko buku Gramedia atau kegiatan lain yang difasilitasi Pemda Provinsi Jawa Tengah."

Terkait dengan surat yang santer diberitakan sebagai memo atau katabelece itu, Widyo secara tegas membantah.

"Bullshit itu. Sungguh tidak mengandung nilai kebenaran dan bukan merupakan tugas pokok dan fungsi saya di Kejaksaan untuk memperhatikan atau mempromosikan bahkan memutasi kepindahan seseorang pegawai atau Jaksa. Kenal atau ketemu yang bersangkutan yang disebut- sebut masih keluarga Arief Hidayatpun tidak pernah."

Dirinya juga mempertanyakan, jika suatu hubungan sudah dekat seperti dimaksud, mengapa  harus didramatisir melalui katabelece.

Menjawab pertanyaan terakhir dari Ketua Dewan Etik Mahkamah Konstitusi yang juga mantan Hakim Mahkamah Konstitusi, Abdul Mukhti Fadjar, tentang kesannya terhadap surat yang dimaksud, Widyo menjelaskan bahwa hendaklah tindakan fitnah, menyebar rasa kebencian dengan maksud  dan kepentingan tertentu, diakhiri, tidak dilakukan lagi.

"Maksud busuk demikian tidak mendidik, meracuni dan bahkan semakin merusak tatanan perikehidupan ketatanegaraan yang baik. Memprihatinkan ketika pejabat negara bahkan penjaga pengamanan garda konstitusi negara dibuat mainan."

Widyo juga berharap agar niat jahat tidak diulangi lagi.

fabi-MP1

Add comment


Security code
Refresh