Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Monday, Dec 11th

Last update11:38:48 AM GMT

You are here

 

KY Prioritaskan Program Pencegahan

MAJALAH-PROSEKUTOR.COM, Semarang : Guna meningkatkan kinerja dalam menjaga marwah, martabat dan keluhuran hakim di Indonesia. Komisi Yudisial (KY) memprioritaskan program pencegahan demi meningkatkan profesionalisme hakim. Pencegahan ini dimaksudkan agar para hakim tidak tergelincir ke dalam perbuatan yang dapat merendahkan harkat dan martabat hakim itu sendiri.

“Untuk mengurangi pelanggaran kode etik, kami akan meningkatkan upaya pencegahan. Hal itu juga sudah dilaksanakan di KY Pusat. Bukan berarti penegakan tidak didorong, tapi nanti akan berbarengan secara bersama. Pencegahan menjadi prioritas kita, melalui pelatihan-pelatihan kode etik, dan kapasitas hakim. Tujuanya agar perbuatan hakim yang tercela bisa dicegah,” kata Plt Koordinator Penghubung Komisi Yudisial (PKY) Jateng, Ferry Fernandes dalam acara bertajuk ‘Diskusi Obrolan Kacang’ menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2016 dikantornya, Jumat (4/2).

Selain itu, lanjut Ferry, kepemimpinan KY periode 2015-2020 saat ini adalah konsolidasi internal dalam rangka penguatan kelembagaan, memperkuat sinergitas hubungan kelembagaan baik dengan Mahkamah Agung (MA), maupun dengan lembaga lainnya dalam rangka saling menguatkan tanpa mengurangi independensi lembaga masing-masing. Menurutnya kegiatan pemantauan peradilan juga menjadi salah satu langkah pencegahan terjadinya pelanggaran kode etik hakim.

“Sebenarnya pencegahan juga sudah dilaksanakan komisioner KY sebelumnya melalui pelatihan kode etik dan peningkatan kapasitas hakim serta seminar. Nah diperiode ini diperkuat lagi,”ungkapnya.

Ferry menjelaskan, KY sebagai lembaga negara yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia (NRI) tahun 1945 mempunyai wewenang mengusulkan pengangkatan hakim agung. Selain itu, menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

TIGA MACAM HAKIM

Dalam rangka menjaga kehormatan dan keluhuran martabat hakim, masih banyak kendala yang akan dihadapi oleh KY di masa datang.

Dari kacamatanya tipe hakim dibagi dalam tiga sifat. Yang pertama adalah hakim yang moralnya sudah baik. Menurutnya hakim demikian akan dipertahankan, bahkan kalau bisa mengajak hakim lain untuk berbuat seperti ini.

“Yang kedua adalah hakim yang sifatnya ditengah-tengah. Kategorinya hakim yang masih baik, tapi labil. Jadi bila ada pihak dari luar yang datang, hakim itu masih terpengaruh. Makanya diharapkan dengan pelatihan dan lingkungan yang baik, hakim yang tergolong abu-abu ini tidak menjadi hakim tipe ketiga,” tandasnya.

Assisten PKY Jateng, Muhammad Farhan menambahkan, untuk tipe ketiga hakim yang memang tidak memiliki sifat baik, artinya yang memang suka mencari perkara untuk dibantu. Menurutnya jika masyarakat mentalnya masih minta tolong saat ada masalah, maka hakim tipe ketiga tidak akan hilang.

“Inilah kita inginkan hakim tipe ketiga ini bisa bergeser menjadi hakim tipe kedua, dan akhirnya menjadi hakim tipe pertama. Itulah tantangan terberat KY di tahun 2016. Karena itulah kami membutuhkan MA dan lembaga terkait serta masyarakat untuk membantu kerja kami,” imbuh Farhan didampingi 2 assiten lainya, Arta Ully dan Bahrul Fawaid.

Selanjutnya, Sekti Wibowo dari Jejaring Pemantau Peradilan (JPP) Jateng mengaku sependapat dengan gagasan pencegahan yang dilontarkan KY.

Hanya saja ia tetap berharap KY diberi wewenang mutlak dalam rekomendasi pemecatan hakim yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Kami harapkan ada undang-undang yang dibuat agar KY punya wewenang untuk itu. Kalau KY hanya sebatas rekomendasi pemecatan sama saja bohong. KY jadinya sama seperti boneka dan LSM yang Cuma bisa rekomendasi tapi tidak bisa beri sangsi,” kata Sekti yang juga Wakil Ketua pada Komunitas Pemerhati Korupsi (KOMPAK) Jateng itu.

marnie-MP1

Add comment


Security code
Refresh