Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

Dewi Susilo Budiharjo: ‘Tinggalkan Zona Nyaman Demi Kaum Marjinal’

Ketika aku kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan DIA mendengar suaraku dari bait-NYA, teriakku minta tolong masuk ke telinga-NYA (2 Samuel 22:7)

Penggalan ayat dari Injil Perjanjian Lama itulah yang membuat wanita pemilik paras cantik ini menemukan ‘jati diri’nya yang sebenarnya. Sejalan dengan jati dirinya barunya itu, Bunda Dewi, demikian dia biasa dipanggil, menjelma menjadi ‘dewi pengharapan’ bagi anak-anak yang kurang beruntung dan kurang mampu serta srikandi pembela anak dan perempuan.

Dewi Susilo Budiharjo, pengusaha yang juga mantan model ini bahkan pernah dianugerah i rekor MURI karena kiprah kepeduliannya pada ribuan anak miskin ini. Tak heran kalau beberapa partai politik kemudian tertarik untuk menggaet ‘karisma’ wanita kelahiran 12 Mei ini untuk menjadi ‘eksekutif’ di dunia politik.

Ada cerita panjang hingga perempuan yang dinobatkan sebagai Bunda Perlindungan Anak Jawa Tengah ini, memiliki passion di jalan yang sungguh berbeda dari kehidupan sosialitanya. “Membutuhkan waktu lama, hingga saya sadar akan panggilan Tuhan. Tahun 2011 lalu, saya menderita penyakit multiple kista. Bisa dibayangkan, kista biasa saja sudah menakutkan, saya sampai multiple. Entah mengapa, ada terbersit niat saya untuk mengikuti pelayanan di Manado. Puji Tuhan, sungguh mu’jizat Tuhan, tak lama, saya sembuh. Meski saat itu saya masih juga mengabaikan panggilan-Nya,” ceritanya kepada PROSEKUTOR ketika ditemui di kediamannya yang asri.

“Saat itu, saya sebenarnya sudah menyadari jika Tuhan sedang memanggil saya untuk berjalan di jalan-Nya. Tapi saat itu saya bingung, apa yang bisa saya lakukan, saya ini pengusaha, yang jarang bersinggungan langsung dengan kelompok-kelompok doa dan sejenisnya. Kemudian, saya berfikir oohh…karena pengusaha, mungkin saya harus berbuat dengan cara membiayai kegiatan keagamaan,” ucap ibu dari Nathan dan Nana ini.

Setelah itu, di tahun 2012 kembali ‘dipanggil’ dengan penyakit thalasemia parah bahkan dirinya sudah pasrah akan keadannya. Kembali, keajaiban Tuhan menyentuhnya, tapi Dewi masih bergeming. Hingga dia mengalami kecelakaan jatuh setahun kemudian yang mengakibatkan tulang tempurungnya lepas. “Saat itulah, saya sudah tidak mau main-main lagi dengan panggilan Bapa saya. Saya ingin melakukan pelayanan, tapi saat itu bingung harus mengundang siapa dan kemana.”

Karena berangkat dari kehidupan pengusaha, istri dari owner perusahaan otomotif Nasmoco Jawa Tengah dan DIY, Simon H Budi ini berfikir, karena basic pengusaha, dirinya mengundang teman-teman seprofesi untuk melakukan doa dan kebaktian.

“Dari seribu lebih yang ada di kontak BBM, hanya dua orang yang datang. Tapi the show must go on, tiap minggu saya bersama staff melaksanakan doa dan kebaktian. Tapi sebagai manusia, lama-lama drop juga, kok susah ya....mengajak orang untuk berdoa?” katanya dengan setengah heran.

Bisikan suara hati kecilnya mulai terasah manakala dirinya teringat sebuah kisah tentang Raja yang mengadakan pesta pasti akan mengundang rakyatnya, tidak hanya para raja. Dewi saat itu balik bertanya pada dirinya sendiri, siapa yang menyuruhmu memanggil pengusaha?

Mahasiswi FH Untag Semarang ini bertutur, “Suatu saat, ada dua orang ibu datang berdoa di House of Prayer. Setelah selesai, kedua ibu itu meminta ijin untuk membawa teman-temannya yang merasa ‘ditolak’ oleh tempat ibadahnya. Tapi mereka harus menyewa angkutan umum. Saya sanggupi, kemudian saya kasih ongkos, gambling juga saat itu, wong saya juga tidak kenal sebelumnya,” kata istri pengusaha dealer otomotif ternama ini.

Ternyata, minggu berikutnya, mereka datang lagi dengan membawa 20 orang teman-temannya. Hingga akhirnya, dari mulut ke mulut beredar, sekarang orang yang datang ke HoP mencapai ratusan orang.

RUMAH SINGGAH

Tak hanya aktif di kegiatan agama, Dewi juga aktif pada kegiatan social dengan mendirikan Yayasan Berkat Bagi Bangsa yang memiliki sekitar 500 anak asuh dan 10 rumah singgah. Hebatnya, mereka berasal dari lintas agama. “Ketika bersama anak-anak di rumah singgah, kami tidak pernah berbicara tentang salah satu agama. Kami ajarkan karakter, psikologi anak dan pelajaran sekolah biasa. Jadi sama sekali tidak ada niat untuk mendidik mereka untuk menjadi pengikut keyakinan saya. Apa yang saya lakukan tulus tanpa tendensi apa-apa,” tegas Dewi yang pernah ‘tergoda’ terjun ke politik ini.

Interaksi dengan anak-anak jalanan, laki-laki maupun perempuan, membuat Dewi punya banyak pengalaman dan pengetahuan. Sebut saja, ketika mengetahui ada anak-anak perempuan yang sudah terkena penyakit kelamin karena perilaku seks bebas di jalanan. Semua itu harus diperjuangkan, jangan sampai dibiarkan.

"Seringkali pelaku (kekerasan) di sekitar mereka sendiri. Orang-orang dekat. Di Jawa Tengah ada sekitar 1000 anak-anak menjadi korban kekerasan. Ini harus dihentikan."

Ketika dirinya harus berpanas-panas, demo di jalanan dengan para aktivis perempuan lainnya, Dewi sama sekali tak sungkan. Ini melahirkan banyak nada sumbang yang tertuju kepadanya. Ada juga yang menuduh hanya sekedar mencari sensasi dan ‘panggung’. Apalagi jika hitung-hitungan materi, sangat tak masuk akal.

“Kalau bukan karena Tuhan, pasti saya tidak akan bisa seperti ini. Bagi saya, memberi itu harus senadi-nadinya, jadi pasti rasanya sakit. Tapi itulah hakikat dan intisari dari memberi. Memberi tidak usah menunggu kita lebih dengan berhitung secara ekonomi, tetapi harus dengan tulus dan senadi-nadinya,” tutur perempuan yang juga didaulat menjadi ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Wilayah Jawa tengah ini.

Membayangkan Dewi, yang mengesampingkan kehidupan mewahnya demi berjibaku dengan kelompok marjinal, sungguh menginspirasi. Demi memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, demi memperoleh keberhasilan mimpinya, dia rela meninggalkan zona aman. Itulah contoh orang yang mengejar mimpinya dan tanpa sadar telah meraih kesuksesan, kendati semua itu harus diawali dari sebuah kotak Pandora.

“Kecintaan untuk selalu berbuat bagi anak-anak Indonesia ini juga terlandasi sikap bahwa saya menolak berbeda’ atau singkatnya saya katakan….‘Kami Indonesia’.

franky/marnie-MP1

Add comment


Security code
Refresh