Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

Ahelya Abustam, SH, MH, Kepala Kejaksaan Negeri Kajen : ‘Pemimpin Yang Baik Itu Disegani Bukan Ditakuti’

Surel Cetak PDF

Chely adalah nama panggilan dari Ahelya Abustam, Jaksa berparas cantik yang kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kajen, Kabupaten Pekalongan ini tak terasa telah memiliki pengalaman di bidang tindak korupsi selama dua puluh tahun yang diabdikan untuk Korps Adhyaksa. Tak heran, begitu dipercaya pimpinan sebagai Kajari, hal pertama yang dilakukannya adalah memberantas praktik kecurangan dalam beberapa proyek yang menyentuh langsung masyarakat pedesaan di Kabupaten Pekalongan.

Pribadinya yang ramah dan ceria, amat disenangi sekaligus disegani oleh anak buah, relasi serta teman-temannya. Kesuksesannya mengungkap belasan kasus korupsi, tak membuatnya sombong dan berbangga diri. Dengan rendah hati, dia menyebut bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa dukungan para Kasi, Jaksa dan seluruh staffnya.

“Kami ini ibarat tubuh manusia yang saling membutuhkan dan melengkapi. Saya sebagai kepala dan anak buah sebagai anggota tubuh yang lain. Sangat tidak mungkin kami bisa jalan sendiri-sendiri, harus satu irama dan satu tujuan,” katanya ramah.

Sebagai seorang pimpinan, dia selalu memosisikan diri sebagai ibu, kakak sekaligus teman. Marah-marah, bukanlah sifat yang dimilikinya. Era sekarang, seorang pimpinan yang baik adalah yang ‘disegani’ bukan ‘ditakuti’.

“Semua yang saya lakukan, selalu saya kembalikan kepada diri saya sendiri. Betapa tak enaknya kalau dimarahi atasan, saya bisa merasakan karena saya juga meniti karir dari bawah. Kalau saya sedikit-sedikit marah, suasana kantor pasti terasa canggung, teman-teman kalau mau berangkat ke kantor pasti sudah malas duluan. Kinerja juga pasti sangat buruk,” kata Chely panjang lebar.

Dalam memimpin, Chely berprinsip harus ada satu kata antara kata antara pimpinan dengan bawahan dalam bekerja supaya seirama. Jika antara pimpinan dan bawahan sudah tak solid, maka kinerja pun jadi tidak maksimal.

“Dalam penanganan tindak pidana korupsi, kami sangat didukung oleh pimpinan  di Kejati Jateng terutama Kajati (Hartadi) dan Aspidsus (Johnny  Manurung). Beliau berdua selalu menyuport kami dalam mengungkap kasus korupsi yang terjadi di sini (Kajen). Alhamdulillah, berkat support dari Beliau-beliau, kami jadi merasa nyaman melaksanakan tugas,” tandas perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini.

JANGAN BERPOLITIK

Penegakkan hukum, tanpa pandang bulu adalah motto yang selalu diyakini dan dijalankan oleh ibu tiga anak ini. Gencarnya penegakkan hukum yang menyentuh para pejabat di salah satu SKPD kabupaten Pekalongan, tak membuat dirinya berseteru dengan pempinan daerah setempat. “Sebagai penegak hukum, kami harus bisa membedakan mana yang salah dan mana yang tidak. Sebagai anggota Forkominda, hubungan kami baik-baik saja. Justru dengan penegakkan hukum yang kami lakukan, menjadikan pembangunan di kabupaten ini menjadi lebih baik. Karena mereka takut memain-mainkan anggara dan proyek,” jelas istri dari seorang pilot ini.

Lebih lanjut Chely menerangkan, sebagai seorang yang memiliki kewenangan menyidik tindak pidana korupsi, dia selalu berpesan kepada seluruh jajarannya agar tak ikut-ikutan berpolitik. Jangan menargetkan seseorang untuk menjadi tersangka, jika unsur-unsur pidana serta alat bukti cukup harus dilanjutkan ke penuntutan.

Kebiasaan yang dilakukan oleh Chely beserta  tim yang menangani kasus, selalu berdiskusi sebelum melakukan pemeriksaan, apa yang ingin didapat dari pemeriksaan tersebut. Jika telah selesai, mereka kembali berdiskusi mereview apa yang telah didapat dan apa yang tidak bisa diperoleh hari itu. Apa kendalanya sehingga pemeriksaan masih kurang. Pulang menjelang maghrib, adalah hal biasa yang dilakukannya.

“Kami ini jauh dari keluarga. Kalau kami tak menyibukan diri dengan bekerja keras, bawaan home sick pasti selalu ada. Selalu saya tekankan ke teman-teman para Kasi bahwa keluarga kita telah merelakan kita bertugas di tempat yang jauh. Maka keikhlasan mereka harus kita balas dengan kerja keras dan jujur. Jangan mengecewakan keluarga dan pimpinan,” jelasnya.

Sebagai seorang yang dilahirkan dari keluarga muslim yang taat, Chely selalu berusaha menikmati dan mensyukuri apa yang telah diperolehnya.  “Nikmat dan rejeki apa pun harus disyukuri, Insya Allah, dengan begitu nikmat yang kita peroleh akan ditambah oleh Allah SWT. Sebaliknya, jika kita kurang pandai bersyukur, maka hidup kita menjadi tak tenang, selalu merasa kurang.”

REKAM JEJAK

Selama menjadi seorang Jaksa, Chely lebih banyak berkecimpung di Bidang Tindak Pidana Korupsi. Banyak kasus korupsi yang ditanganinya, apalagi dia juga menjadi anggota Satsus Tipikor saat bertugas di Kejati Jawa Timur.

“Waktu pertama kali sidang dulu, rasanya deg-degan, agak grogi. Kasus yang saya tangani pertama kali adalah kasus pencurian. Kalau kasus korupsi, banyak dengan tersangka beraneka macam latar belakang dan jabatan. Salah satu yang berkesan adalah saat menangani perkara yang melibatkan mantan Sekda Kediri,” kenang Chely.

Ahelya pertama kali masuk Kejaksaan di tahun 1986 sebagai CPNS di Kejati Sulawesi Selatan. Tahun 1992, dia dipindah tugas ke Kejaksaan Negeri Surabaya sebagai TU, kemudian tahun 1993 dirinya diterima mengikuti PPJ dan dilantik menjadi seorang Jaksa. Tahun 2003, Chely ditugaskan di Kejaksaan Negeri Surabaya.

Karena prestasinya, di tahun 2003 hingga 2006, Ahelya dipromosikan menjadi Kasi Datun Kejaksaan Negeri Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah kurang lebih tiga tahun bertugas di Sidoarjo, kemudian dipromosikan lagi menjadi Kasi Uheksi Pidsus pada Aspidsus Kejati Jawa Timur.

Di Kejati Jawa Timur bertahan cukup lama, sekitar enam tahun. Hingga kemudian dipromosikan kembali menjadi Jaksa Koordinator di Kejati DIY. Dan di awal 2014 lalu, Chelly dilantik menjadi Kepala kejaksaan Negeri Kajen  hingga saat ini.

marnie-MP1

Add comment


Security code
Refresh