Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Saturday, Nov 18th

Last update08:17:21 AM GMT

You are here

 

Peminpin Redaksi PROSEKUTOR Dilantik Sebagai Wakajati Sulsel

Surel Cetak PDF

Pemimpin Redaksi Majalah PROSEKUTOR, Senin (7/9), dilantik menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Selatan menggantikan Heru Sriyanto yang dipercaya sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku Utara.

Selain pelantikan Wakajati Sulsel, turut dilantik pula Asisten Intelijen Kejati Sulsel, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sungguminasa, Kajari Pinrang dan Kajari Majene.

"Saya sebagai Wakajati yang baru mohon ijin untuk bisa memulai tugas di bumi Makassar ini. Semoga saya bisa diterima sebagai warga Sulsel," papar Sunarta usai pelantikan.

Dirinya juga memohon bimbingan bapak Kajati serta dukungan anak buah di Kejati Sulsel. "Saya juga menitipkan istri saya pada Ketua IAD untuk bisa berorganisasi."

Ditanya mengenai target dalam bekerja, Sunarta hanya menegaskan bahwa dirinya akan bekerja keras agar bisa melaksanakan tupoksi dengan baik dan benar."

HUKUMAN MATI

Fenomena hukuman mati bagi para terpidana kasus narkoba yang sempat menjadu santapan media seluruh dunia, tak bisa lepas dari nama Sunarta.

Ditunjuknya mantan Kajari Palembang ini sebagai Ketua Satgassus Hukuman Mati Kejagung RI, membuatnya jadi incaran media disamping Kapuspenkum.

Prestasi yang diraihnya sampai saat ini tak lepas dari jati dirinya yang selalu menyebut sebagai anak desa yang pantang menyerah.

Perjalanan karier bungsu sembilan bersaudara dari keluarga petani yang sederhana, membuat Sunarta kecil tak pernah mengecap mewahnya kehidupan anak-anak kota.

"Untuk biaya menyekolahkan anak-anaknya saja orang tua saya harus kerja keras. Namun itulah yang membentuk pribadi saya menjadi pekerja keras dan tak gampang menyerah," kata pria kelahiran 12 Juni 1964 ini.

Karena desanya termasuk daerah pinggiran Subang, Jawa Barat, tak heran jika jarang sekali anak-anak yang bisa menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SMA apalagi kuliah.

"Orang pertama dari kampung saya yang kuliah ya saya ini. Itupun saya dan orang orang tua harus kerja keras dan mengencangkan ikat pinggang. Saat kuliah di Unpad, Alhamdulillah, saya dapat beasiswa sehingga sangat terbantu," kenangnya.

Menyelesaikan sekolah di SMAN 1 Subang, suami dari Iis Komisah ini harus rela berpisah dari orang tuanya dan menyewa kamar kost karena jarak antara rumah dan sekolahnya jauh.

"SMA saya sudah kost. SMP sekolah naik sepeda, kalau hujan ya sepedanya yang naik saya (dipanggul)," ceritanya seraya tertawa.

Hingga duduk di bangku SMA, Sunarta masih sama sekali belum tahu ingin kerja apa sebenarnya. Kebetulan, saat kuliah mantan Kajari Palembang ini berteman dengan anak seorang Jaksa.

"Waktu lihat orang tua teman pakai seragam, kok kelihatan gagah. Saya jadi pengen seperti itu."

Lulus kuliah, pria ramah ini bercerita sempat memfoto copi ijasahnya sebanyak 20 lembar. "Semua habis saya pakai melamar kerja. Salah satunya ya di Kejaksaan. Syukurlah saya diterima," akunya yang saat bersamaan juga mendapat panggilan kerja dari Bank Indonesia namun ditolaknya.

Sebagai orang yang telah kenyang pahit manisnya hidup, membuat ayah empat anak ini selalu mengedepankan profesionalitas dalam bekerja. Dirinya tak mau jika hasil kerja keras dalam menggapai cita-citanya hilang hanya karena kerja yang tak sesuai dengan peraturan dan petunjuk pimpinan.

"Kerja harus profesional, proporsional dan mengedepankan hati nurani. Karena menegakkan hukum tanpa hati nurani ya sama saja dengan robot," ujarnya.

Dalam menangani suatu perkara, jaksa harus melihat aspek rasa keadilan masyarakat. Meski sesuai hukum jelas salah, tetapi harus pula dilihat aspek yang akan timbul dalam masyarakat yang modern ini.

JENJANG KARIER

Sunarta mengawali karir di Kejaksaan pada tahun 1991 ketika diterima dan ditempatkan sebagai CPNS di Kejari Subang, Jawa Barat.

Setelah lulus Pendidikan Jaksa, Sunarta ditugaskan di Kejari Singkawang hingga dirinya diangkat sebagai Kasi Intel. "Itu tahun 1994-1999, di Singkawang saya ikut menangani kasus kerusuhan Sambas."

Dianggap berprestasi, oleh pimpinan dipromosikan menjadi Kasi Intel Karawang yang selanjutnya dipromosikan lagi menjadi Kasi Wilayah II Dir Uhek pada JAM Pidsus.

Setelah itu, Sunarta dipromosikan menjadi Kajari Padang Panjang, Sumatera Barat (selama 2 tahun). Lalu dipercaya menjadi Kajari Banyuwangi selama dua tahun dan menjadi Aspidsus Kejati Bengkulu.

"Saat bertugas di Bengkulu, saya berhasil menangani kasus korupsi yang melibatkan Gubernur Bengkulu saat itu. Mungkin pimpinan menganggap ini prestasi, maka saya dipercaya untuk menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Palembang."

Dari Palembang, mahasiswa S3 Universitas Pasundan ini kemudian dipromosikan menjadi Asisten Intelijen Kejati Jateng menggantikan Heffinur.

"Hidup ini terus mengalir, yang buruk ambilah hikmahnya, kejadian yang baik harus diperhatikan," tutur jaksa yang juga petani ini.

Dari Jawa Tengah, Sunarta dipercaya menjadi Kasubdit Polsosbud pada Direktorat Sospol Jamintel Kejagung RI. Dari Intel, pimpinan mempercayakan Sunarta sebagai koordinator pada Jampidum Kejagung RI.

Berkat kesigapannya menjalankan tugas yang diberikan sebagai Ketua Satgassus Hukuman Mati, pria pengkoleksi berbagai batu akik ini dipercaya sebagai Wakajati Sulawesi Selatan. franky-MP2

Add comment


Security code
Refresh