Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Thursday, Nov 23rd

Last update11:58:11 AM GMT

You are here

 

Kejati Jatim Tumbuhkan Virus Cinta Korps

Menjalani hidup harus memiliki impian dan filosofi. Filosofi tersebut harus selalu dijabarkan dalam tindakan nyata setiap hari. Itulah yang selalu ada dalam benak Elvis Johnny yang kini menjabat sebaga Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Penataan kantor pun tak kepas dari filosofi, seperti halaman yang bersih dan rapi itu memiliki arti sendiri bagi mantan Karopeg ini.

"Mengapa saya tata halaman bersih dan rapi? Karena saya ingin orang luar yang melihat, juga berpikir bahwa yang di dalam (pegawai Kejaksaan) pikirannya pun bersih," tuturnya pada PROSEKUTOR, Rabu (29/7).

Air meluncur yang menghiasi bagian luar gedung Kejati Jawa Timur pun mengandung filosofi kehidupan yang dalam.

"Air itu tenang, mengalir kemana pun, namun jangan pernah menghambat air karena akan memunculkan genangan bahkan bah. Artinya, jangan pernah menghambat penanganan perkara atau penegakkan hukum yang dilakukan oleh Kejati Jatim karena pasti akan dilibas."

Jaksa tinggi yang selalu menjemput tamunya sendiri di depan pintu ruang kerjanya itu berpendapat bahwa dalam hidup harus istiqomah dan disiplin. Itu kunci hidup tentram.

TUMBUHKAN RASA CINTA KORPS

Sebagai seorang Kajati, bisa saja Elvis mengenakan pakaian berbahan mahal, sepatu kulit berharga puluhan juta, tetapi itu tak dilakukannya. Dia setia dengan pakaian seragam dan sepatu dari jatah pembagian Kejagung RI.

Dirinya juga menerapkan aturan bahwa seluruh Asisten, Kajari dan semua jajaran kejaksaan tinggi maupun negeri di wilayah hukum Kejati Jatim, harus memakai jatah tersebut.

"Saat kita memakai baju dan sepatu yang sama, maka tak akan tercipta jarak atau kesenjangan sosial yang mencolok. Hubungan akan menjadi dekat jadi seperti keluarga."

Aturan inipun memiliki filosofi dengan kata kunci konsistensi. "Ketika jaksa-jaksa saya bahkan saya diketawakan orang yang melihat, koq dari Kejati Jatim memakai baju dan sepatu jatah pusat, saya hanya ingin menunjukkan bahwa kalau ingin yang lebih baik ya konsisten dengan mutu yang lebih baik pula."

Dirinya hanya ingin agar semua anak buahnya memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap 'baju coklat' atau korps yang telah memberinya penghidupan yang layak dan kebanggan pribadi. "Coba kalau kita tidak memakai baju Kejaksaan, belum tentu juga kita bisa seperti sekarang. Dengan baju coklat kita ini, kita bisa menghidupi keluarga, menyekplahkan anak-anak. Jadi sudah banyak yang kita dapat dari Kejaksaan, harusnya kita beri timbal balik yang pantas dengan cara bekerja yang baik dan tidak melakukan perbuatan yang mengakibatkan korps tercoreng," kata Elvis.

Kenapa konsisten? Karena jika konsisten dalam bertindak dan selalu memberi teladan yang baik, niscaya lama kelamaan akan menular ke semua. Sebagai Kajati dirinya juga tegas dalam menanamkan disiplin, tiap hari dilaksanakan apel. Bagi yang terlambat, tidak akan bisa masuk ke kantor karena pintu gerbang akan dibuka setelah pukul 08.00 WIB.

"Karena setelah jam tersebut maka akan terkena pemotongan gaji sesuai peraturan. Dari sini akan terlihat mana pegawai yang malas dan mana yang rajin."

Ada yang menarik dari kebijakan pria yang sudah dua kali menjadi Kajati ini dengan melarang seluruh pegawai kejati makan di luar kantor. Mereka semua diwajibkan makan di kantin kantor dan bila ada acara disediakan nasi kotak.

"Ini adalah filosofi tentang kebersamaan. Karena dengan makan di tempat yang sama, menu yang sama, maka tak ada lagi perbedaan. Semua sama sebagai bagian dari hamba hukum berseragam coklat berlambang timbangan dengan pedang dan tiga berlian."

Kebijakan lain yang diterapkan adalah, siapa pun dari daerah yang datang ke Kejati, harus membawa surat perintah jalan dari Kajarinya, jika tidak maka jangan harap bisa masuk atau bertemu dengan pejabat di Kejati.

Pun bagi Kajari yang datang jika tidak memakai seragam dan sepatu jatah dari Kejaksaan Agung, maka para asisten, KTU, Waka dan Kajati dilarang menemui.

"Saya beberapa kali pernah mengajak pegawai ke koperasi karena tidak memakai perlengkapan standar pusat. Saya ingin virus cinta korps ini bisa menular ke seluruh Indonesia."

Semoga!

marni/franky-MP1

Add comment


Security code
Refresh