Majalah Prosekutor Online

Suluh Hukum Masyarakat

Thursday, Nov 23rd

Last update09:00:37 AM GMT

You are here

 

Ratusan Terpidana Mati Belum Dieksekusi

Pelaksanaan hukuman (eksekusi) mati di Indonesia kembali mengemuka, khususnya bagi gembong narkoba. Yang paling baru adalah terhadap gembong narkotika Adami Wilson, Kamis (14/3) lalu.

Adami tertangkap pada 2003 silam, dan sempat menjalani kurungan di LP Tangerang, kemudian dipindah ke LP Nusakambangan. Namun selama di penjara dia ternyata masih menjalani dan mengotaki bisnis narkoba (sabu-sabu). Kasus narkoba yang menjeratnya sudah terlampau besar, hingga pada klimaksnya, Adam harus menjalani eksekusi mati.

Jaksa Agung, Basrief Arief mengakui masih ada ratusan terpidana mati yang hingga kini belum dieksekusi pihak Kejaksaan. Sebanyak 58 narapidana diantaranya adalah terpidana kasus narkoba.

"Kita nembak tidak seperti nembak burung yang mau dieksekusi kan punya hak sesuai undang-undang," kata Basrief beberapa waktu lalu.

Meskipun sudah dijatuhkan vonis mati, namun terpidana masih bisa mengajukan upaya hukum, mulai dari banding hingga kasasi, bahkan peninjauan kembali. "Kemudian mereka masih mempunyai upaya hukum mengajukan grasi. Jadi ini harus ditunggu," sambung Basrief.

Jika semua upaya hukum sudah dilakukan, dan tetap tak merubah vonis hukuman mati, maka sang terpidana masih boleh mengajukan permintaan terakhir, dan hal tersebut diatur undang-undang.

"Ada yang minta bertemu keluarga, kalau keluarganya di luar sana dan keluarganya sakit minta waktu, itu harus dipenuhi, dan kita harus menunggu," tandas Basrief.

Namun Jaksa Agung menyatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan eksekusi terpidana mati dalam waktu dekat. "Saya belum bisa mengatakan kapan akan dilaksanakan. tetapi Insya Allah dalam waktu dekat ada yang kita eksekusi."

AKAN DIEKSEKUSI

Sementara itu sebanyak 9 terpidana mati lainnya dari sejumlah kasus di Indonesia, juga akan segera dieksekusi Kejaksaan Agung (Kejagung) tahun 2013 ini. Jumlah tersebut,  dari total 113 terpidana mati hingga awal tahun 2013 ini. Belum diketahui kapan pelaksanaan eksekusi digelar. Dari sekian terpidana nati yang diekskusi, sekitar 80 persen diketahui terlibat kasus narkotika.

"Tahun ini kita akan mengeksekusi 10 orang terpidana mati. Ada sekitar 80 persennya, tersangkut kasus narkoba. Terdapat beberapa yang masih proses," terang Kapuspenkum Kejagung, Setia Untung Arimuladi SH MH kepada wartawan Senin (11/2), sebelum menjadi pemateri acara workshop pencegahan koruspi di Hotel Santika Primer.

Ditambahkan mantan Aspidus Kejati Jateng itu, kesepuluhan terpidana mati yang akan diekseskusi itu berasal dari tiga daerah. "Tiga dari Sumatera Selatan, tiga dari Sulawesi Selatan dan empat dari Banten," katanya.

Dari sekian perkara yang dituntut hukuman mati, berlum semua terpidana telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Hal itu disebabkan banyaknya terpidana yang mengajukan upaya hukum kembali seperti banding, kasasi, hingga Peninjauan Kembali (PK). Dari ratusan terpidana mati, hukuman beberapa di antaranya diturunkan menjadi penjara seumur hidup.

TERKEJUT

Pengacara dan praktisi hukum, Todung Mulya Lubis mengaku terkejut mengetahui eksekusi hukuman mati terhadap narapidana narkoba asal Nigeria, Adami Wilson. Seperti diketahui, Kamis malam (14/3), Kejaksaan Agung mengeksekusi mati Wilson.

"Sejak tahun 2009 tidak ada eksekusi hukuman mati tapi tiba-tiba ada eksekusi hukuman mati," ujarnya saat menggelar jumpa pers di kantor Kontras, Sabtu (16/3) Jakarta.

Menurutnya, satu sisi Indonesia ikut Komisi HAM ASEAN dan PBB. Indonesia juga meratifikasi berbagai aturan dunia tentang HAM, namun pelaksanaan hukuman mati terhadap Wilson merupakan catatan hitam hak asasi manusia.

"Pemerintah Indonesia sangat tidak menghormati hak asasi manusia," ujar Todung.

Todung mengatakan eksekusi hukuman mati tersebut mencemaskan kita semua sebab bisa terjadi eksekusi lainnya. "Saya punya dua klien warga negara asing yang divonis hukuman mati, saat ini keduanya mengajukan grasi,"katanya.

Menurutnya, survei di negara lain mengenai eksekusi hukuman mati rendah karena ada opsi lain yaitu hukuman seumur hidup tanpa remisi. "Kita dihadapkan pada dua pertanyaan hitam putih mengenai setuju atau tidak mengenai hukuman mati," katanya.

Todung menyampaikan, jika Pemerintah, Kejaksaan, dan Pengadilan ingin memberantas narkoba maka jangan mengejar ikan yang kecil tapi yang besarnya. "Tidak adil menghukum mereka. Ini menjadi ambivalensi dan sangat menyedihkan," katanya.

Terpisah, berbagai pihak malah meminta agar Kejagung segera mempercepat eksekusi vonis mati bagi terpidana lainnya. "Kita apresiasi eksekusi mati terpidana narkoba oleh Kejagung, tapi sampai saat ini kita belum puas karena masih banyak yang belum dieksekusi," kata Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) Henry Yosodiningrat.

Henry meminta agar sisa terpidana vonis mati yang sedang menunggu regu tembak harus diselesaikan tahun ini. Jika tidak, maka hal itu akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Tidak hanya itu, Granat juga menuding sikap Kejagung yang lambat dalam pelaksanaan vonis mati gembong narkoba.

"Kejagung masih sangat lambat dalam kasus ini, padahal para narapidana ini sudah banyak yang di vonis bertahun-tahun yang lalu," ungkapnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI Sjarifudin Suding mengapresiasi langkah Kejagung yang berhasil menembak mati pelaku kejahatan narkoba. Tetapi Sjarifudin, juga belum puas dengan sikap Kejagung yang dinilai cukup lambat. Padahal, terpidana vonis mati di Kejagung masih ada 15 orang lagi yang siap menghadapi regu tembak.

"Kejagung harus segera lakukan eksekusi lanjutan terhadap yang lainnya agar dapat memberi efek jera terhadap para pelaku gembong narkoba yang peredarannya sungguh sangat masif," papar Suding. web/fr-kie

Add comment


Security code
Refresh